21 September 2021

The Lowland: Ketika Ideologi dan Keluarga Tak Bisa Berdamai

 

Udayan dan Subhash adalah adik kakak yang lahir dan tinggal di Tollygunge, Kolkata Selatan, Benggala Barat, India. Usia keduanya terpaut 15 bulan. Sewaktu kecil, mereka selalu bersama-sama, termasuk saat “menembus” tembok Tolly Club, wilayah bekas orang-orang Inggris bermain golf. Hingga suatu saat mereka ketahuan polisi club yang sedang berpatroli dan menghukumnya.

Sejak kecil, Udayan lebih aktif dibanding kakaknya. Hal ini terbawa hingga besar. Ketika Subhash meneruskan kuliah ke Amerika Serikat, Udayan justru memilih menjadi guru dan bergabung dengan salah satu partai komunis di India. Ia bersama para kameradnya bergerak secara klandestin dan kerap menjadi buruan aparat.

Sementara Udayan akhirnya menikahi Gauri, adik kawannya, Subhash justru terlibat percintaan dengan Holly, perempuan setengah baya yang punya satu anak dan telah berpisah dengan suaminya.

Pernikahan Udayan dengan Gauri tak direstui keluarga kedua belah pihak. Gauri telah diusir, kecuali oleh kakaknya. Namun, meski orang tua Udayan tidak merestui, mereka masih mau menerima pasangan muda itu untuk tinggal di Tollygunge.

Jarak yang begitu jauh memisahkan Udayan dengan Subhash membuat mereka tidak mengetahui kondisi masing-masing yang sebenarnya. Udayan tidak tahu jika Subhash menjalin hubungan dengan Holly. Sementara Subhash tidak tahu jika Udayan kian aktif di partai komunis yang kian membahayakan dirinya. Hingga suatu hari sebuah telegram datang ke Rhode Island, AS, tempat tinggal Subhash:

“Udayan tewas. Pulanglah jika kamu bisa.”

***

Ketika Udayan tewas diberondong oleh polisi, dia tidak tahu jika Gauri, istrinya, tengah mengandung. Di Tollygunge, Subhash mendapati bahwa kedua orang tuanya terlihat tidak menyayangi Gauri: restu belum juga diberi sejak pernikahan. Mereka hanya menunggu Gauri melahirkan. Rencananya mereka akan merawat anak Udayan dan mengusir ibunya.

Subhash mengambil keputusan penting. Dia menikahi Gauri demi menyelamatkan mantan istri adiknya beserta anaknya dari kesewenang-wenangan orang tuanya. Setelah melewati pelbagai ketegangan, Gauri akhirnya berangkat ke AS untuk menyusul Subhash.

Selama mengandung, Subhash tak berani menyentuh Gauri, yang kini telah menjadi istrinya. Komunikasi mereka juga masih kaku. Bagaimana tidak, dari ipar menjadi istri sendiri.

Gauri akhirnya melahirkan anak perempuan yang diberi nama Bela. Sejak punya anak, Gauri yang masih dihantui tragedi pembunuhan Udayan merasa hampa, dia tak terlalu sayang kepada Bela dan Subhash. Hal ini kemudian mencapai puncaknya. Saat Subhash dan Bela baru pulang dari India karena ayahnya meninggal, Gauri telah meninggalkan mereka dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditulis memakai bahasa Bengali:

“Aku tidak membuat keputusan ini dengan tergesa-gesa. Dari segala segi, aku telah memikirkannya selama bertahun-tahun. Kamu berusaha sebaik-baiknya. Demikian juga aku, tetapi tidak juga ketemu. Kita telah berusaha untuk meyakini bahwa kita akan menjadi teman satu sama lain.

…………………………………………………………..

Selamat, Subhash. Dan juga selamat tinggal. Sebagai balasan atas semua yang telah kamu lakukan untukku, aku tinggalkan Bela untukmu.”

Gauri pergi ke California untuk mengajar di sebuah kampus. Sementara Subhash memutar otak bagaimana menyampaikan perpisahan ini kepada Bela yang masih kecil. Tapi waktu akhirnya mampu mengatasi segalanya. Bela beranjak dewasa. Setelah lulus kuliah, dia bertualang ke pelosok AS, menyambangi para petani, orang-orang miskin, dan mengajar anak. Aktivitasnya menyerupai Udayan, ayahnya yang tak pernah ia lihat, yakni menolong masyarakat.

Ketika Subhash mulai menua, ibunya di India telah pikun. Subhash kembali hidup sendirian: tanpa Udayan, tanpa Gauri, tanpa Bela, tanpa kedua orang tuanya. Hingga suatu saat, seorang perempuan seusianya, sama-sama tua, yang sudah punya anak dan cucu datang dalam hidupnya. Selain itu, Bela akhirnya kembali ke Rhode Island, ia mengandung. Setelah lahir, anaknya diberi nama Meghna.

***

“Berani-beraninya kamu menapak di rumah ini!” kata Bela kepada Gauri saat ibunya datang ke rumah Subhash di Rhode Island.

“Keluar. Pergilah kembali pada apa pun yang lebih penting,” lanjut Bela.

Gauri akhirnya pergi, meninggalkan cucu dan anaknya yang tak akan pernah memaafkannya. Ia bahkan tak sempat bertemu dengan Subhash, suaminya.

***

The Lowland atau Tanah Cekung yang tebalnya 591 halaman, secara getir menggambarkan bagaimana ideologi dan keluarga yang tak terdamaikan. Tragedi kematian Udayan membawa persoalan yang rumit bagi orang-orang terdekatnya, dan berkelindan selama puluhan. Kasih sayang raib, yang ada hanya kosong.

Hubungan Subhash dan Gauri yang dingin dan gagal, juga bagaimana Bela selama puluhan tahun tidak tahu siapa ayah sebenarnnya, dan dengan kejam ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Sementara Gauri yang cintanya tercerabut bersamaan dengan tewasnya Udayan, tak mampu lagi membangun hubungan rumah tangga untuk selamanya. Hatinya telah tandus.

Begitu pula kedua orang tua Udayan. Mereka hanya bisa diam di tengah peristiwa yang membuat jiwa keduanya remuk redam. (irf)

12 September 2021

Interpreter of Maladies: Kisah Penuh "Luka" yang Dituturkan Secara Hangat dan Menggugah

Perjumpaan saya dengan karya-karya Jhumpa Lahiri adalah perjumpaan yang memutar. Mula-mula saya menyukai film. Dan salah satu sutradara favorit saya adalah Mira Nair. Film karya Mira Nair yang pertama kali saya tonton adalah sebuah omnibus berjudul New York, I love You (2009) saat diputar di Jakarta International Film Festival (JIFFes). Selanjutnya adalah film Amelia (2009), biopik penerbang Amelia Earhart yang hilang di perairan Pasifik.

Setelah itu saya mulai mencari film-film Mira Nair yang lain, dan ketemulah The Namesake (2006), film tentang pergulatan identitas yang diangkat dari novel Jhumpa Lahiri dengan judul sama. Seperti dua film sebelumnya, The Namesake juga begitu memukau hingga akhirnya saya mencari novelnya hingga dapat. Nah, mulai saat itulah saya berkenalan dengan karya Jhumpa Lahiri.

Setelah menamatkan novel The Namesake (2003), saya langsung menjadi penggemar baru Lahiri. Pengarang perempuan keturunan India ini benar-benar piawai dalam bertutur. Rangkaian kalimatnya begitu jernih, jauh dari rumit. Dia tak bergenit-genit dengan metafora dan majas lainnya. Ketekunan dan kesabarannya dalam menggambarkan latar cerita dan detail-detail lainnya begitu mengagumkan.

Sayang sekali, setelah novel The Namesake, saya kesulitan menemukan buku-buku Lahiri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sempat suatu kali ada bukunya yang berjudul The Lowland (2015) atau Tanah Cekung beredar di toko besar, namun karena penerbit kurang terkenal maka saya menunda untuk membelinya (sekarang akhirnya dibeli juga buku itu).

Ada pula informasi yang menyebutkan bahwa Interpreter of Maladies telah diterjemahkan, tapi ketika saya cek, ternyata terbitnya sudah lama. Setelah sekian lama tertunda, akhirnya saya bisa mendapatkan buku tersebut.

Interpreter of Maladies telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tiga penerbit. Pertama, Akubaca dengan judul Penafsir Kepedihan. Kedua oleh Jalasutra dengan judul Benua Ketiga dan Terakhir. Dan ketiga oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul Penerjemah Luka. Saya membaca yang terakhir.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen, total berjumlah sembilan. Dan sebagaimana The Namesake, dalam buku ini juga Lahiri bertutur dengan sangat baik.

Kisah pertama dibuka oleh “Masalah Sementara”, tentang bagaimana pasangan muda keturunan India yang hidup di AS saling menutup diri, tak acuh, dan dingin, padahal mereka belum lama menikah. Situasi ini bermula setelah sang istri melahirkan dan anaknya meninggal sesaat setelah persalinan. Setelah itu komunikasi beku, keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sampai akhirnya tibalah pemadaman listrik karena gangguan. Kegelapan rumah membuat mereka menyalakan lilin, makan bersama, dan mulai bicara lagi, lalu situasi pun mulai mencair kembali.

Cerpen favorit saya yang kedua adalah “Seksi”. Berkisah tentang Laksmi dan Miranda. Mereka rekan kerja. Sekali waktu Lakmi bercerita bahwa sepupunya yang telah punya anak dikhianati suaminya yang memilih pacaran dengan seorang pramugari. Sementara setiap hari Laksmi bercerita hal tersebut, Miranda sebetulnya tengah menjalin hubungan dengan seorang pria beristri.

“Seksi,” ucap kekasih Miranda suatu hari. Hati Miranda melambung.

Suatu hari, Laksmi hendak mengantar sepupunya untuk beberapa urusan. Nah, anak sepupunya itu dititipkan ke Miranda. Si bocah dan Miranda lumayan akrab. Saat si bocah melihat gaun yang dipegang Miranda, ia meminta Miranda untuk memakai. Meski awalnya menolak, tapi akhirnya Miranda mengenakannya juga.

Melihat Miranda dengan gaun tersebut, si bocah berkata, “Seksi.”

Miranda kaget, sebab ia teringat dengan ucapan kekasihnya, pria beristri yang kerap bercinta dengannya. Ia pun bertanya kepada si bocah, apa maksud ucapan tersebut.    

“Mencintai seseorang yang tidak kau kenal,” jawab anak itu.

Si bocah sebetulnya tengah membicarakan bapaknya yang berselingkuh dengan pramugari. Namun bagi Miranda, jawaban tersebut begitu menohok dirinya.

Cerpen favorit selanjutnya adalah “Benua Ketiga dan Terakhir”. Ini merupakan cerpen pengujung di buku Penerjemah Luka. Menceritakan persahabatan pria imigran India dengan perempuan AS yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Selain itu, juga hubungan kaku antara si imigran istrinya yang masih berada di India. Maklum, pasangan yang menikah karena dijodohkan.

Saat istrinya akhirnya menyusul dan tiba di AS, si pria tak menyambutnya dengan antusias, biasa saja. Namun seiring waktu, keduanya kemudian saling mengerti, saling memahami, hingga hubungan lebih hangat dan hidup. Dan sebagai perantau, si pria imigran merasa bersyukur atas pencapaian yang biasa-biasa saja.

“Aku sekarang tahu pencapaianku biasa saja. Aku bukan satu-satunya orang yang mencari keberuntungan jauh dari kampung halamannya, dan yang pasti aku bukan yang pertama. Namun tetap saja ada saat-saat ketika aku terheran-heran mengenang setiap kilometer yang kutempuh, setiap hidangan yang kusantap, setiap orang yang kukenal, setiap kamar tempat aku pernah tidur. Meski semuanya tampak biasa, ada saat-saat ketika itu semua melampaui bayanganku,” ucapnya.

Ya, cerpen ini begitu hangat. Tak heran jika Jalasutra menjadikannya sebagai judul buku, alih-alih menerjemahkan dari kalimat “Interpreter of Maladies”.

Sekarang saya tengah mulai membaca The Lowland, awalnya saja sudah menarik. Lain kali, mudah-mudahan sempat, akan saya tuangkan juga di sini. (irf)

17 August 2021

Prabu Wangisutah: Wastu Kancana dan Dua Calon Istri

Setelah berguru kepada Resi Susuk Lampung, Wastu Kancana dan Rakean Hujung akhirnya kembali ke Negeri Sunda. Mereka berpisah di sebuah pelabuhan. Rakean Hujung pulang ke kampungnya di Hujung Kulon, dan Wastu Kancana kembali ke Kawali, ibu kota Sunda.

Wastu Kancana berlabuh di Muara Jati (Cirebon). Sebelum sampai ke Kawali, dia singgah dulu ke Gunung Indrakila (Gunung Ciremai) dan bertemu dengan Ni Larang Sariti. Nenek ini adalah penunggu wilayah bekas negara (kerajaan) yang masih leluhur Kerajaan Sunda.

Setelah itu, Wastu Kancana melanjutkan perjalanan dan singgah lagi ke sebuah perguruan Budha Mahayana Sarwastiwada di daerah Gunung Bitung, Talaga Manggung. Kemudian dia laju lagi dan akhirnya sampai ke Kawali serta langsung menuju Lemah Kabuyutan Sanghiyang Linggahiyang, tempat kedua orang tua dan kakak perempuannya disemayamkan.

Kedatangan Wastu Kancana disambut gembira oleh pamannya dan seluruh warga yang hidup di lingkungan keraton. Prabu Bunisora Suradipati, pamannya, yang menjabat sebagai raja sementara, ingin segera melantik Wastu Kancana sebagai raja pelanjut ayahnya yang gugur di Bubat. Namun, Wastu Kancana belum bersedia.  

Karena seorang raja harus mempunyai permaisuri, maka Prabu Bunisora Suradipati mendorong keponakannya untuk segera berumah tangga. Ketika Wastu Kancana berkata bahwa selama berkelana dia tidak pernah sembarangan menggunakan penglihatannya termasuk kepada perempuan, pamannya percaya tapi terus mendesaknya:

“Paman percaya kana kapengkuhan dia, tapi ogé Paman percaya kana kajujuran dia! Naha Anom teu kungsi papanggihan basa guguru di Maharesi Susuk Lampun? Tong mungkir, Anom! Beubeur nu dipaké ku dia, kaambeuna ku Paman, asa seungit cawéné?”

Memang betul, ketika Wastu Kancana hendak meninggalkan Lampung, dia diberi kenang-kenangan ikat pinggang oleh Dewi Sarkati, putri Maharesi Susuk Lampung. Setelah Wastu kancana mengakuinya, maka Prabu Bunisora Suradipati segera mengirimkan utusan untuk melamar Dewi Sarkati untuk dikawinkan dengan keponakannya.  

Di sisi lain, ketika utusan dari Kerajaan Sunda berangkat ke Lampung, Dewi Sarkati bermimpi didatangi Batara Wisnu yang menunggangi Garuda. Namun dalam mimpi tersebut, wajah Batara Wisnu mirip dengan Wastu Kancana. Hal tersebut ia ceritakan kepada ayahnya dan meminta izin untuk menyusul Wastu Kancana ke Negeri Sunda.

“Lamun éta lalaki geus diguratkeun pijodoeun kami, poé isuk kami rék lunta ka Tatar Sunda! Muga Ramaresi nyaluyuan!” ujar Dewi Sarkari.

“Eulis! Anaking! Naha bet luluasan kitu?” tanya ayahnya penuh kekhawatiran.

“Tong disebut seuweuna Maharesi Susuk Lampung mun teu wani meuntasan sagara! Anggursi jurungkeun! Muga kami waluya dina enggoning lalampahan!” jawab Dewi Sarkati.

Maka Dewi Sarkati pun akhirnya berangkat ke Tatar Sunda hendak menemui pujaan hatinya yang datang lewat impian. Namun, bukankah Negeri Sunda itu luas? Harus ke mana dia menuju? Perjalanan Dewi Sarkati tidak mudah, dia harus melewati pelbagai tantangan dan rintangan yang mengadang, bahkan putri Maharesi Susuk Lampung itu hampir diperkosa oleh kawanan begal di sebuah hutan dekat Kawali.

 

Dewi Mayangsari

Di lingkungan keraton Sunda, salah seorang putri Prabu Bunisora Suradipati, yakni Dewi Mayangsari—sepupunya Wastu Kancana, yang dulu kawan bermainnya sewaktu bocah—kini telah tumbuh dewasa. Dia juga menyimpan hati kepada kakak sepupunya tersebut, pun sebaliknya Wastu Kancana—meski fokusnya tetap kepada Dewi Sarkati.

Singkat cerita, Dewi Sarkati akhirnya dapat mencapai Kawali setelah sebelumnya ditolong oleh Rakean Hujung saat hendak diperkosa oleh kawanan begal. Ya, Rakean Hujung kawan seperjalanan Wastu Kancana saat berkelana ke Pakuan dan Lampung.

Kegembiraan pun tumpah di keraton. Pelbagai persiapan dipercepat untuk acara pernikahan Wastu Kancana dan Dewi Sarkati. Di tengah kesibukan itu, Dewi Sarkati mulai dekat dengan Dewi Mayangsari, dan dia melihat bahwa putri Prabu Bunisora Suradipati itu seperti dirinya: mencintai Wastu Kancana.    

Maka sehari sebelum pernikahannya dengan Wastu Kancana, Dewi Sarkati mengajukan satu permintaan yang harus dipenuhi: Wastu Kancana boleh menikahinya asal sekaligus dengan Dewi Mayangsari. Tanpa diduga banyak orang, calon Raja Sunda itu akan menikahi dua perempuan sekaligus!

Selain itu, pada kesempatan yang hampir bersamaan, Wastu Kancana yang belum juga menyanggupi untuk menjadi raja, oleh para tetua diberi gelar Prabu Wangisutah.  (irf)  

08 August 2021

Wastu Kancana: Pertualangan Calon Raja Sunda

Ketika Perang Bubat meletus yang menewaskan kedua orang tua dan kakak perempuannya, Wastu Kancana masih bocah. Berita duka itu disampaikan kepada Mangkubumi Bunisora Suradipati oleh para darmajaksa utusan Prabu Hayam Wuruk. Para tetua Sunda yang telah lanjut usia marah besar. Mereka menghendaki perang, menyerbu Majapahit.

“Mahapatih jejerih! Gajah atah warah! Gusti Mangkubumi! Najan kami geus cetuk-dawuk! Goréng-goréng gé kami téh kungsi ngalaman jadi Senapatiyuda! Kami sanggup kénéh ngeprik wadyabalad Nagri Sunda pikeun males pulih ngagempur urang Majapait!” ucap Ki Olot, tetua yang paling dituakan, emosinya meluap-luap.  

Namun Mangkubumi Bunisora Suradipati dapat meredam emosi para tetua tersebut. Dia berpikir jika Sunda membalas dendam dengan menggempur Majapahit, maka kehancuran akan menimpa seluruh Jawa. Dengan kesedihan yang mendalam, Mangkubumi Bunisora Suradipati kemudian pamit kepada para tetua hendak menenangkan pikiran sejenak dengan pergi ke Jampang, tempat tinggalnya yang juga terdapat padepokan untuk menggembleng para balamati (pengawal kerajaan) Negeri Sunda.

Namun sehari sebelum dia berangkat, Wastu Kancana yang tinggal di keraton bersama sejumlah pengasuhnya diculik seseorang pada malam hari. Setelah dikejar oleh Mangkubumi Bunisora Suradipati, ternyata yang menculiknya adalah salah seorang pemimpin di padepokan Mandala Binayapanti Jampang. Akhirnya Wastu Kancana justru dititipkan di padepokan tersebut.


Pertualangan di Pakuan Pajajaran dan Lampung

Setelah belajar di padepokan Binayapanti Jampang selama lima tahun, akhirnya Wastu Kancana harus kembali ke Kawali, ibu kota Sunda. Namun, sehari sebelum dia pergi, Mangkubumi Bunisora Suradipati datang ke padepokan itu untuk menyampaikan tragedi yang menimpa orang tua, saudara, dan orang-orang Sunda lainnya yang gugur di palagan Bubat.

Ya, selama lima tahun mendalami ilmu, tragedi itu dirasiakan kepada Wastu Kancana. Setelah mendengarkan semua yang dikisahan pamannya, Wastu Kancana pingsan. Lalu siuman dan muntab.

“Paman! Naha Paman teu males pulih ka si Gajah Mada? Paman leutik burih!” bentak Wastu Kancana.

Namun setelah ditenangkan dan diberi pengertian, Wastu Kancana akhirnya mereda. Dia sebetulnya diminta untuk kembali ke Kawali karena hendak dijadikan raja, penerus ayahnya. Namun Wastu Kancana menolak, dia merasa belum pantas dan masih ingin menambah ilmu di tempat lain.

Ditemani Rakean Hujung, kawannya di padepokan, Wastu kancana akhirnya pergi. Rakean Hujung membawanya ke Pakuan, negeri bawahan Sunda yang dulu terpisah. Mereka menyemar sebagai rakyat biasa, bukan sebagai lulusan Binayapanti Jampang apalagi calon raja.

Di Pakuan ternyata hendak terjadi pemberontakan yang akan menggulingkan raja yang sah. Pelakunya adalah Rakean Mantri Kaladarma beserta gerombolannya. Namun, berkat strategi Rakean Hujung dan Wastu Kancana, pemberontakan itu berhasil digagalkan. Setelah itu, keduanya segera meninggalkan Pakuan.

Mereka kemudian menuju pesisir utara Jawa bagian Barat, hendak mencari pengalaman dengan berlayar. Karena perahu yang ada hanya akan berlayar ke Lampung, maka keduanya terpaksa ikut. Di Lampung, mereka berguru kepada Resi Susuk Lampung.

Di padepokan ini, Rakean Hujung dan Wastu Kancana lagi-lagi menolong tuan rumah dari serangan berdarah yang dipimpin Arai Mongga. Setelah peristiwa itu, keduanya pamitan kembali ke Negeri Sunda.

Bagi Wastu Kancana, selain menambah ilmu, di padepokan Lampung juga dia mulai merasakan jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Dewi Sarkati, putri Resi Susuk Lampung. Sayang, keduanya harus berpisah. Namun sebelum berpisah, mereka bertukar cendera mata sebagai kenangan-kenangan akan cinta yang hendak dipisahkan raga.

“Geter rasa geter sukma, sambung sinambungan, tepung dina pasisi jangji nu teu kungsi kalisankeun. Antara Lampung jeung Sunda, jauh pilampaheunana, tapi deukeut geugeut na angenna,” tulis Yoseph Iskandar. (irf)

01 August 2021

Perang Bubat: Sikap Lancung Gajah Mada dan Tewasnya Citraresmi


Yoseph Iskandar menulis roman sejarah tentang Kerajaan Sunda dalam sembilan jilid buku, yaitu:

1. Perang Bubat

2. Wastu Kancana

3. Prabu Wangisutah

4. Tanjeur na Juritan Jaya di Buana

5. Pamanah Rasa

6. Putri Subang Larang

7. Prabo Anom Jayadewata

8. Tri Tangtu di Bumi

9. Ajar Kutamangu

Semuanya insyaAllah akan saya resensi satu persatu secara berurutan. Dan mari kita mulai dari buku yang pertama: Perang Bubat.

Kenapa kisah ini dibuka dengan pertumpahan darah? Saya kira, karena tragedi ini menjadi batu tapal untuk siapa saja yang tertarik dengan cerita tentang Kerajaan Sunda. Peristiwa ini hingga kiwari menjadi akar dari pelbagai pamali dalam hubungan Sunda-Jawa.

Warsa 1356 Masehi, Sunda dipimpin oleh Prabu Maharaja Linggabuana. Dia punya dua anak, yaitu Citraresmi dan Wastu Kancana. Adik Linggabuana bernama Mangkubumi Bunisora Suradipati. Sekali waktu, datang utusan dari Kerajaan Majapahit. Tujuannya untuk melukis Citraresmi sebagai salah satu calon istri yang kelak akan dipilih oleh Prabu Hayam Wuruk.

Singkat cerita, Citraresmi terpilih dan dilamar. Karena saat itu Majapahit adalah kerajaan besar yang banyak negeri bawahannya, maka calon mempelai wanita yang mendatangi calon mempelai laki-laki untuk melaksanakan perkawinan. Hal ini sebetulnya sempat ditolak oleh Mangkubumi Bunisora Suradipati yang menjunjung tinggi harga diri Sunda, namun kakaknya menyetujui permintaan Majapahit.  

Karena punya firasat buruk, maka dengan beberapa alasan akhirnya Mangkubumi Bunisora Suradipati dan Wastu Kancana tidak ikut ke Trowulan, ibu kota Majapahit.

Rombongan dari Sunda berlayar melalui Cirebon. Sesampainya di Trowulan—karena ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada—mereka tak langsung disambut ke keraton, melainkan ditempatkan dulu di Lapangan Bubat. Gajah Mada bertekad menaklukkan rombongan Sunda karena hanya kerajaan inilah yang belum sempat ia taklukkan untuk menggenapi Sumpah Palapa.

Prabu Hayam Wuruk tidak setuju dengan rencana mahapatihnya. Namun, tekad Gajah Mada telah bulat, dia hendak menjadikan Citraresmi sebagai upeti sebagai tanda bahwa Kerajaan Sunda mengaku takluk.

Lalu apa yang selanjutnya terjadi? Alih-alih menuruti ambisi Gajah Mada, rombongan Sunda mengobarkan perlawanan. Tentu saja kecamuk saling bunuh yang sangat tidak seimbang, sebab mereka jauh-jauh datang ke Majapahit bukan untuk berperang, melainkan pernikahan. Maka demikianlah, firasat buruk Mangkubumi Bunisora Suradipati menjadi kenyataan.   

Seluruh rombongan Sunda tumpas, termasuk Citraresmi yang menghunjamkan patrem pemberian pamannya ke dadanya sendiri. Pesta perkawinan itu berubah menjadi ladang pembantaian.

Sikap lancung Gajah Mada dalam kisah klasik ini kemudian menjadi semacam api abadi dalam pamali-pamali kultural hubungan Sunda-Jawa.

Karena tidak ikut ke Majapahit, maka Mangkubumi Bunisora Suradipati dan Wastu Kancana selamat dan menjadi penerus Kerajaan Sunda, juga kisah-kisah selanjutnya.

Dalam cerita ini Yoseph Iskandar sempat melontarkan kritik terhadap Mohammad Yamin yang “menemukan” sosok Gajah Mada lewat pecahan celengan yang kemudian menjadi narasi seragam dalam buku-buku sejarah di sekolah. Menurut Yoseph, Yamin jelas salah besar, sebab Gajah Mada tidak mungkin seperti yang Yamin imajinasikan:    

“Béda jeung arca nu dipaké nyampaykeun leungeun kéncana dina sajeroning dirina ngajentul di lawang pendopo. Eta arca nu purah ngajaga panto téh, pangawakanana lintuh bayuhyuh. Pipi karebi, panon sipit. Biwir kandel kedeplik. Sarérétan mah bakal pahili jeung Semar. Teuing arca naon, nu pasti sakur tukang nyieunan karajinan keramik di dayeuh Trowulan, éta arca téh dijieun conto pikeun céngcéléngan.”

Ibarat pertandingan tinju, Perang Bubat adalah pukulan pertama yang telak menghunjam dalam kisah panjang perjalanan Kerajaan Sunda. (irf)