10 November 2021

Hikayat Panjang Banjir di Bandung


Banjir di Bandung, terutama di sejumlah daerah di sekitar tepi sungai Citarum, adalah kisah berulang. Setiap tahun, pelbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi atau bahkan mencegahnya. Dana yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Namun, kabar belum juga berubah.

Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Cicalengka, Kutawaringin, dan Ibun, yang semuanya masuk wilayah Kabupaten Bandung, menjadi langganan banjir ketika musim hujan datang.

Salah satu daerah yang paling parah mengalami banjir adalah Dayeuhkolot. Sebagai contoh, sejak Selasa (9/4/2019), di sejumlah kanal media sosial beredar video tentang seorang 
suami menggendong istrinya yang tengah hamil menembus banjir setinggi leher.


Pemindahan Ibukota

Sejak wilayah Priangan dimekarkan oleh Sultan Agung setelah penangkapan Dipati Ukur pada 1632, ibukota Kabupaten Bandung mula-mula berada di daerah yang dulu bernama Karapyak, terletak persis di tepi sungai Citarum. Daerah ini kelak bernama Dayeuhkolot yang artinya kota tua.

Setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merampungkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan, ia memerintahkan kepada sejumlah bupati untuk memindahkan ibukota kabupaten.

Di Priangan, ibukota yang harus dipindahkan ke tepi Jalan Raya Pos adalah ibukota Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang. Lewat surat keputusan bertitimangsa 25 Mei 1810, Daendels memerintahkan Bupati Bandung Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibukota ke tepi Jalan Raya Pos.

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad in gebouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali ke sini telah dibangun sebuah kota!)” ucap Daendels kepada Wiranatakusumah II seperti terdapat dalam Sejarah Kota Bandung 1945-1979 (1985) yang ditulis oleh Edi S. Ekadjati dan kawan-kawan.

Konon, Daendels berkata seperti itu sambil menancapkan tongkat di pinggir Jalan Raya Pos yang kini menjadi titik nol kilometer Kota Bandung di sisi Jalan Asia Afrika. Pemindahan sejumlah ibukota kabupaten tersebut dilakukan untuk memudahkan koordinasi.

Dalam laporan jurnalistik Kompas yang bertajuk Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008) disebutkan, Jalan Raya Pos mula-mula difungsikan untuk memperlancar komunikasi antara Batavia dengan daerah-daerah di Jawa. Setelah selesai dibangun, jalan ini mampu memangkas waktu tempuh pengiriman pesan dan surat.

“Semula dari Batavia ke Surabaya memerlukan waktu tempuh satu bulan. Dengan adanya jalan ini, waktu tempuh menjadi 3 sampai 4 hari saja,” tulis Kompas.

Selain itu, jalan ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Ketika Daendels tiba di Hindia Belanda, posisi angkatan perang Inggris telah mengancam Jawa. Jadi, jika suatu saat Inggris menyerang Jawa, maka jalan ini digunakan untuk mobilitas pasukan Belanda.

“Apa pun tugas yang dikatakan diembannya, yang terpenting adalah pertahanan militer terhadap serangan Inggris,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menerangkan tugas Gubernur Jenderal tersebut.

Kisah tentang pembangunan Jalan Raya Pos inilah yang menjadi narasi utama dalam pelbagai catatan sejarah tentang pemindahan ibukota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke sekitar Alun-alun Bandung sekarang. Pemindahan ibukota ini pula yang sekarang dijadikan sebagai 
hari ulangtahun Kota Bandung.


Banjir dan Inisiatif Wiranatakusumah II

Narasi tersebut tidak sedikit pun menyinggung soal banjir yang kerap menerjang Karapyak yang letaknya di tepi sungai Citarum. Namun, menurut catatan Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), satu tahun sebelum turun perintah Daendels, Wiranatakusumah II telah berinisiatif hendak memindahkan ibukota Kabupaten Bandung ke arah utara karena sering dilanda banjir.

Mula-mula Wiranatakusumah II mencari lokasi baru untuk ibukota Kabupaten Bandung di daerah Bojonagara, tepatnya di Kampung Cikalintu, dekat masjid besar Jalan Cipaganti sekarang.

“Di tempat itu, pertama kali Wiranatakusumah II membangun rumah tinggalnya” tulis Kunto.

Ia menambahkan, Kampung Cikalintu dipilih Wiranatakusumah II sebagai calon ibukota baru berdasarkan sejumlah alasan. Pertama, mengacu pada catatan Andries de Wilde (tuan tanah di daerah Priangan), yang menyebut lahan sebelah selatan adalah daerah basah yang berawa-rawa. Sementara daerah Bandung utara lebih cocok untuk permukiman karena hawanya sejuk dan lingkungannya sehat.

Alasan kedua, sebelah utara Bandung terdapat sejumlah perkampungan penduduk seperti Kampung Balubur, Kampung Gadog, Dago, Gegerkalong Girang, dan Babakan Bogor.

Dan pertimbangan ketiga adalah karena daerah tersebut memenuhi syarat kepercayaan lokal, yakni bekas kubangan badak putih yang berarti lahan itu memiliki sumber air, baik berupa mata air ataupun aliran sungai.

Tidak jauh dari Kampung Cikalintu yang dipilih oleh Wiranatakusumah II, memang terdapat mata air Pancuran Tujuh di daerah Cikendi, Ledeng di daerah Jalan Setiabudi, dan Sungai Cikapundung. Dan tak jauh dari sana terdapat juga daerah yang bernama Rancabadak. Dulu orang Bandung menyebut Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan sebutan Rumah Sakit Rancabadak.

Namun, saat perintah pemindahan ibukota turun, ternyata Kampung Cikalintu jaraknya jauh dari Jalan Raya Pos. Oleh karena itu Wiranatakusumah II mencari lokasi lain. Pilihan selanjutnya adalah Babakan Bogor yang sekarang bernama Kebonkawung (daerah sekitar Stasiun Bandung).

Babakan Bogor juga memenuhi syarat lokal dengan terdapatnya mata air Ciguriang yang sampai sekarang masih ada, dan dulu dijadikan sebagai pusat mencuci oleh para penatu.

“Namun, rupanya Kebonkawung (Babakan Bogor) masih belum memenuhi syarat buat mendirikan kabupaten beserta alun-alunnya,” imbuh Kunto.

Akhirnya, Wiranatakusumah II menemukan lokasi yang cocok sebagai ibukota, yakni di sisi Jalan Raya Pos dan tak jauh dari aliran Sungai Cikapundung. Selain itu, di lokasi ini pun terdapat sejumlah mata air yang disebut Sumur Bandung.

Jika dibandingkan dengan perintah Daendels untuk memindahkan ibukota ke sisi Jalan Raya Pos, pemilihan lokasi yang dilakukan oleh Wiranatakusumah II ternyata sesuai. Narasi ini barangkali versi lokal untuk menafikan atau setidaknya tidak terlalu mengagungkan pengaruh kolonialisme dalam peristiwa pemindahan ibukota Kabupaten Bandung.

Dan dari keseluruhan kedua versi ini, banjir di Bandung tempo dulu tak terlampau banyak dikisahkan. (irf)

02 November 2021

Hikayat Jersi Sepakbola

Dulu di kampung, orang-orang menyebut seragam sepakbola sebagai “kaos tim”, atau biasa disingkat “kostim”. Belakangan, saat liga sepakbola Eropa begitu populer, sebutan itu berubah menjadi jersey atau jersi.

Jersey adalah nama pulau di Kepulauan Britania. Konon dari pulau inilah jersi bermula.

Memasuki usia kuliah, saya hampir sepenuhnya meninggalkan sepakbola. Maka itu, tak ada ketertarikan untuk membeli jersi. Namun ironisnya, di masa kuliah pula saya pertama kali memakai jersi untuk dipakai sehari-hari.

Jersi pertama saya sebetulnya milik si Zul, kawan kuliah, orang Bukittinggi. Tak inget betul bagaimana akhirnya jersi itu bisa beralih ke tangan saya. Jersi tersebut adalah Real Madrid away 2000/2001, warnanya hitam dengan trigaris Adidas berwarna oranye. Kainnya tipis tapi adem, maklum KW. Sering banget saya pakai sehari-hari sampai kemudian hilang entah ke mana.

Tahun 2009, saya mulai kerja di Pulogadung dan mulai menyukai lagi sepakbola, tapi sebatas menonton Liga Inggris. Karena bosan dengan klub-klub besar, maka saya memilih satu klub medioker: West Ham United (WHU). Bersama si Oki, kawan sekosan, saya membeli jersi WHU home 2012/2013 yang tentu saja KW, di Pasar Ular. Sayang agak kekecilan.

Jersi selanjutnya adalah Arsenal home 2012/2013, dikasih si Jun, juga kawan sekosan, yang berjualan baju Muslim di ITC Cempaka Mas. Maklum karena bukan suporter fanatik, maka dia mudah saja menghibahkan jersi klub favoritnya. Karena sering dicuci, tulisan “Fly Emirates”-nya pelan-pelan menghilang.

Warsa 2014 saya keluar dari pekerjaan di Pulogadung dan kembali ke Bandung. Masih mendukung WHU meski jarang nonton. Saya kemudian membeli jersi WHU home 2015/2016 dengan uang honor tulisan. Saat basecamp komunitas tempat saya tinggal pindah, jersi itu hilang.

Tahun-tahun berikutnya saya kembali kerja di Jakarta, dan baru membeli jersi WHU lagi yang musim 2020/2021 (home). Musim berikutnya, WHU home datang lagi, tapi kali kekecilan, akhirnya dipakai istri.

Di tengah penampilan WHU yang kian membaik, AC Milan—klub favorit masa kecil—hadir dengan jersi home 2020/2021 yang sangat ciamik. Demi nostalgia, saya menukarnya dengan sejumlah uang.

Setahun kemudian saya mulai mengikuti lagi pertandingan-pertandingan bulu tangkis para pemain Indonesia. Mulai dari Olimpiade Tokyo, Piala Sudirman, Piala Thomas, Piala  Uber, Denmark Terbuka, hingga Prancis Terbuka. Di tengah demam bulu tangkis, saya akhirnya membeli dua raket Lining super KW dengan bonus tempat raket dan grip handuk.

Mula-mula kami hanya bermain di depan rumah dan di Cieunteung, tapi kemudian sejumlah kawan mengajak bermain di GOR yang kesannya lebih serius dan bebas angin. Karena saya cepat berkeringat dengan jumlah banyak, maka jersi pun saya tambah untuk bermain bulu tangkis.

Jersi sepakbola yang dibeli dengan niat untuk dipakai bermain bulu tangkis mula-mula adalah Persib home 2021/2022. Inilah pertama kalinya saya membeli jersi original, meskipun hanya jersi edisi suporter yang harganya pun jauh di bawah jersi original player issue.      

Kini saya tengah menunggu kedatangan jersi Ajax away 2021/2022 yang dibeli dari market place.  

Saya kira, menjadi Ucup Bajaj Bajuri seru juga, meskipun jersi-jersi itu kebanyakan hanya saya pakai saat bermain bulu tangkis. [ ] 

21 September 2021

The Lowland: Ketika Ideologi dan Keluarga Tak Bisa Berdamai

 

Udayan dan Subhash adalah adik kakak yang lahir dan tinggal di Tollygunge, Kolkata Selatan, Benggala Barat, India. Usia keduanya terpaut 15 bulan. Sewaktu kecil, mereka selalu bersama-sama, termasuk saat “menembus” tembok Tolly Club, wilayah bekas orang-orang Inggris bermain golf. Hingga suatu saat mereka ketahuan polisi club yang sedang berpatroli dan menghukumnya.

Sejak kecil, Udayan lebih aktif dibanding kakaknya. Hal ini terbawa hingga besar. Ketika Subhash meneruskan kuliah ke Amerika Serikat, Udayan justru memilih menjadi guru dan bergabung dengan salah satu partai komunis di India. Ia bersama para kameradnya bergerak secara klandestin dan kerap menjadi buruan aparat.

Sementara Udayan akhirnya menikahi Gauri, adik kawannya, Subhash justru terlibat percintaan dengan Holly, perempuan setengah baya yang punya satu anak dan telah berpisah dengan suaminya.

Pernikahan Udayan dengan Gauri tak direstui keluarga kedua belah pihak. Gauri telah diusir, kecuali oleh kakaknya. Namun, meski orang tua Udayan tidak merestui, mereka masih mau menerima pasangan muda itu untuk tinggal di Tollygunge.

Jarak yang begitu jauh memisahkan Udayan dengan Subhash membuat mereka tidak mengetahui kondisi masing-masing yang sebenarnya. Udayan tidak tahu jika Subhash menjalin hubungan dengan Holly. Sementara Subhash tidak tahu jika Udayan kian aktif di partai komunis yang kian membahayakan dirinya. Hingga suatu hari sebuah telegram datang ke Rhode Island, AS, tempat tinggal Subhash:

“Udayan tewas. Pulanglah jika kamu bisa.”

***

Ketika Udayan tewas diberondong oleh polisi, dia tidak tahu jika Gauri, istrinya, tengah mengandung. Di Tollygunge, Subhash mendapati bahwa kedua orang tuanya terlihat tidak menyayangi Gauri: restu belum juga diberi sejak pernikahan. Mereka hanya menunggu Gauri melahirkan. Rencananya mereka akan merawat anak Udayan dan mengusir ibunya.

Subhash mengambil keputusan penting. Dia menikahi Gauri demi menyelamatkan mantan istri adiknya beserta anaknya dari kesewenang-wenangan orang tuanya. Setelah melewati pelbagai ketegangan, Gauri akhirnya berangkat ke AS untuk menyusul Subhash.

Selama mengandung, Subhash tak berani menyentuh Gauri, yang kini telah menjadi istrinya. Komunikasi mereka juga masih kaku. Bagaimana tidak, dari ipar menjadi istri sendiri.

Gauri akhirnya melahirkan anak perempuan yang diberi nama Bela. Sejak punya anak, Gauri yang masih dihantui tragedi pembunuhan Udayan merasa hampa, dia tak terlalu sayang kepada Bela dan Subhash. Hal ini kemudian mencapai puncaknya. Saat Subhash dan Bela baru pulang dari India karena ayahnya meninggal, Gauri telah meninggalkan mereka dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditulis memakai bahasa Bengali:

“Aku tidak membuat keputusan ini dengan tergesa-gesa. Dari segala segi, aku telah memikirkannya selama bertahun-tahun. Kamu berusaha sebaik-baiknya. Demikian juga aku, tetapi tidak juga ketemu. Kita telah berusaha untuk meyakini bahwa kita akan menjadi teman satu sama lain.

…………………………………………………………..

Selamat, Subhash. Dan juga selamat tinggal. Sebagai balasan atas semua yang telah kamu lakukan untukku, aku tinggalkan Bela untukmu.”

Gauri pergi ke California untuk mengajar di sebuah kampus. Sementara Subhash memutar otak bagaimana menyampaikan perpisahan ini kepada Bela yang masih kecil. Tapi waktu akhirnya mampu mengatasi segalanya. Bela beranjak dewasa. Setelah lulus kuliah, dia bertualang ke pelosok AS, menyambangi para petani, orang-orang miskin, dan mengajar anak. Aktivitasnya menyerupai Udayan, ayahnya yang tak pernah ia lihat, yakni menolong masyarakat.

Ketika Subhash mulai menua, ibunya di India telah pikun. Subhash kembali hidup sendirian: tanpa Udayan, tanpa Gauri, tanpa Bela, tanpa kedua orang tuanya. Hingga suatu saat, seorang perempuan seusianya, sama-sama tua, yang sudah punya anak dan cucu datang dalam hidupnya. Selain itu, Bela akhirnya kembali ke Rhode Island, ia mengandung. Setelah lahir, anaknya diberi nama Meghna.

***

“Berani-beraninya kamu menapak di rumah ini!” kata Bela kepada Gauri saat ibunya datang ke rumah Subhash di Rhode Island.

“Keluar. Pergilah kembali pada apa pun yang lebih penting,” lanjut Bela.

Gauri akhirnya pergi, meninggalkan cucu dan anaknya yang tak akan pernah memaafkannya. Ia bahkan tak sempat bertemu dengan Subhash, suaminya.

***

The Lowland atau Tanah Cekung yang tebalnya 591 halaman, secara getir menggambarkan bagaimana ideologi dan keluarga yang tak terdamaikan. Tragedi kematian Udayan membawa persoalan yang rumit bagi orang-orang terdekatnya, dan berkelindan selama puluhan. Kasih sayang raib, yang ada hanya kosong.

Hubungan Subhash dan Gauri yang dingin dan gagal, juga bagaimana Bela selama puluhan tahun tidak tahu siapa ayah sebenarnnya, dan dengan kejam ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Sementara Gauri yang cintanya tercerabut bersamaan dengan tewasnya Udayan, tak mampu lagi membangun hubungan rumah tangga untuk selamanya. Hatinya telah tandus.

Begitu pula kedua orang tua Udayan. Mereka hanya bisa diam di tengah peristiwa yang membuat jiwa keduanya remuk redam. (irf)

12 September 2021

Interpreter of Maladies: Kisah Penuh "Luka" yang Dituturkan Secara Hangat dan Menggugah

Perjumpaan saya dengan karya-karya Jhumpa Lahiri adalah perjumpaan yang memutar. Mula-mula saya menyukai film. Dan salah satu sutradara favorit saya adalah Mira Nair. Film karya Mira Nair yang pertama kali saya tonton adalah sebuah omnibus berjudul New York, I love You (2009) saat diputar di Jakarta International Film Festival (JIFFes). Selanjutnya adalah film Amelia (2009), biopik penerbang Amelia Earhart yang hilang di perairan Pasifik.

Setelah itu saya mulai mencari film-film Mira Nair yang lain, dan ketemulah The Namesake (2006), film tentang pergulatan identitas yang diangkat dari novel Jhumpa Lahiri dengan judul sama. Seperti dua film sebelumnya, The Namesake juga begitu memukau hingga akhirnya saya mencari novelnya hingga dapat. Nah, mulai saat itulah saya berkenalan dengan karya Jhumpa Lahiri.

Setelah menamatkan novel The Namesake (2003), saya langsung menjadi penggemar baru Lahiri. Pengarang perempuan keturunan India ini benar-benar piawai dalam bertutur. Rangkaian kalimatnya begitu jernih, jauh dari rumit. Dia tak bergenit-genit dengan metafora dan majas lainnya. Ketekunan dan kesabarannya dalam menggambarkan latar cerita dan detail-detail lainnya begitu mengagumkan.

Sayang sekali, setelah novel The Namesake, saya kesulitan menemukan buku-buku Lahiri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sempat suatu kali ada bukunya yang berjudul The Lowland (2015) atau Tanah Cekung beredar di toko besar, namun karena penerbit kurang terkenal maka saya menunda untuk membelinya (sekarang akhirnya dibeli juga buku itu).

Ada pula informasi yang menyebutkan bahwa Interpreter of Maladies telah diterjemahkan, tapi ketika saya cek, ternyata terbitnya sudah lama. Setelah sekian lama tertunda, akhirnya saya bisa mendapatkan buku tersebut.

Interpreter of Maladies telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tiga penerbit. Pertama, Akubaca dengan judul Penafsir Kepedihan. Kedua oleh Jalasutra dengan judul Benua Ketiga dan Terakhir. Dan ketiga oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul Penerjemah Luka. Saya membaca yang terakhir.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen, total berjumlah sembilan. Dan sebagaimana The Namesake, dalam buku ini juga Lahiri bertutur dengan sangat baik.

Kisah pertama dibuka oleh “Masalah Sementara”, tentang bagaimana pasangan muda keturunan India yang hidup di AS saling menutup diri, tak acuh, dan dingin, padahal mereka belum lama menikah. Situasi ini bermula setelah sang istri melahirkan dan anaknya meninggal sesaat setelah persalinan. Setelah itu komunikasi beku, keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sampai akhirnya tibalah pemadaman listrik karena gangguan. Kegelapan rumah membuat mereka menyalakan lilin, makan bersama, dan mulai bicara lagi, lalu situasi pun mulai mencair kembali.

Cerpen favorit saya yang kedua adalah “Seksi”. Berkisah tentang Laksmi dan Miranda. Mereka rekan kerja. Sekali waktu Lakmi bercerita bahwa sepupunya yang telah punya anak dikhianati suaminya yang memilih pacaran dengan seorang pramugari. Sementara setiap hari Laksmi bercerita hal tersebut, Miranda sebetulnya tengah menjalin hubungan dengan seorang pria beristri.

“Seksi,” ucap kekasih Miranda suatu hari. Hati Miranda melambung.

Suatu hari, Laksmi hendak mengantar sepupunya untuk beberapa urusan. Nah, anak sepupunya itu dititipkan ke Miranda. Si bocah dan Miranda lumayan akrab. Saat si bocah melihat gaun yang dipegang Miranda, ia meminta Miranda untuk memakai. Meski awalnya menolak, tapi akhirnya Miranda mengenakannya juga.

Melihat Miranda dengan gaun tersebut, si bocah berkata, “Seksi.”

Miranda kaget, sebab ia teringat dengan ucapan kekasihnya, pria beristri yang kerap bercinta dengannya. Ia pun bertanya kepada si bocah, apa maksud ucapan tersebut.    

“Mencintai seseorang yang tidak kau kenal,” jawab anak itu.

Si bocah sebetulnya tengah membicarakan bapaknya yang berselingkuh dengan pramugari. Namun bagi Miranda, jawaban tersebut begitu menohok dirinya.

Cerpen favorit selanjutnya adalah “Benua Ketiga dan Terakhir”. Ini merupakan cerpen pengujung di buku Penerjemah Luka. Menceritakan persahabatan pria imigran India dengan perempuan AS yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Selain itu, juga hubungan kaku antara si imigran istrinya yang masih berada di India. Maklum, pasangan yang menikah karena dijodohkan.

Saat istrinya akhirnya menyusul dan tiba di AS, si pria tak menyambutnya dengan antusias, biasa saja. Namun seiring waktu, keduanya kemudian saling mengerti, saling memahami, hingga hubungan lebih hangat dan hidup. Dan sebagai perantau, si pria imigran merasa bersyukur atas pencapaian yang biasa-biasa saja.

“Aku sekarang tahu pencapaianku biasa saja. Aku bukan satu-satunya orang yang mencari keberuntungan jauh dari kampung halamannya, dan yang pasti aku bukan yang pertama. Namun tetap saja ada saat-saat ketika aku terheran-heran mengenang setiap kilometer yang kutempuh, setiap hidangan yang kusantap, setiap orang yang kukenal, setiap kamar tempat aku pernah tidur. Meski semuanya tampak biasa, ada saat-saat ketika itu semua melampaui bayanganku,” ucapnya.

Ya, cerpen ini begitu hangat. Tak heran jika Jalasutra menjadikannya sebagai judul buku, alih-alih menerjemahkan dari kalimat “Interpreter of Maladies”.

Sekarang saya tengah mulai membaca The Lowland, awalnya saja sudah menarik. Lain kali, mudah-mudahan sempat, akan saya tuangkan juga di sini. (irf)

17 August 2021

Prabu Wangisutah: Wastu Kancana dan Dua Calon Istri

Setelah berguru kepada Resi Susuk Lampung, Wastu Kancana dan Rakean Hujung akhirnya kembali ke Negeri Sunda. Mereka berpisah di sebuah pelabuhan. Rakean Hujung pulang ke kampungnya di Hujung Kulon, dan Wastu Kancana kembali ke Kawali, ibu kota Sunda.

Wastu Kancana berlabuh di Muara Jati (Cirebon). Sebelum sampai ke Kawali, dia singgah dulu ke Gunung Indrakila (Gunung Ciremai) dan bertemu dengan Ni Larang Sariti. Nenek ini adalah penunggu wilayah bekas negara (kerajaan) yang masih leluhur Kerajaan Sunda.

Setelah itu, Wastu Kancana melanjutkan perjalanan dan singgah lagi ke sebuah perguruan Budha Mahayana Sarwastiwada di daerah Gunung Bitung, Talaga Manggung. Kemudian dia laju lagi dan akhirnya sampai ke Kawali serta langsung menuju Lemah Kabuyutan Sanghiyang Linggahiyang, tempat kedua orang tua dan kakak perempuannya disemayamkan.

Kedatangan Wastu Kancana disambut gembira oleh pamannya dan seluruh warga yang hidup di lingkungan keraton. Prabu Bunisora Suradipati, pamannya, yang menjabat sebagai raja sementara, ingin segera melantik Wastu Kancana sebagai raja pelanjut ayahnya yang gugur di Bubat. Namun, Wastu Kancana belum bersedia.  

Karena seorang raja harus mempunyai permaisuri, maka Prabu Bunisora Suradipati mendorong keponakannya untuk segera berumah tangga. Ketika Wastu Kancana berkata bahwa selama berkelana dia tidak pernah sembarangan menggunakan penglihatannya termasuk kepada perempuan, pamannya percaya tapi terus mendesaknya:

“Paman percaya kana kapengkuhan dia, tapi ogé Paman percaya kana kajujuran dia! Naha Anom teu kungsi papanggihan basa guguru di Maharesi Susuk Lampun? Tong mungkir, Anom! Beubeur nu dipaké ku dia, kaambeuna ku Paman, asa seungit cawéné?”

Memang betul, ketika Wastu Kancana hendak meninggalkan Lampung, dia diberi kenang-kenangan ikat pinggang oleh Dewi Sarkati, putri Maharesi Susuk Lampung. Setelah Wastu kancana mengakuinya, maka Prabu Bunisora Suradipati segera mengirimkan utusan untuk melamar Dewi Sarkati untuk dikawinkan dengan keponakannya.  

Di sisi lain, ketika utusan dari Kerajaan Sunda berangkat ke Lampung, Dewi Sarkati bermimpi didatangi Batara Wisnu yang menunggangi Garuda. Namun dalam mimpi tersebut, wajah Batara Wisnu mirip dengan Wastu Kancana. Hal tersebut ia ceritakan kepada ayahnya dan meminta izin untuk menyusul Wastu Kancana ke Negeri Sunda.

“Lamun éta lalaki geus diguratkeun pijodoeun kami, poé isuk kami rék lunta ka Tatar Sunda! Muga Ramaresi nyaluyuan!” ujar Dewi Sarkari.

“Eulis! Anaking! Naha bet luluasan kitu?” tanya ayahnya penuh kekhawatiran.

“Tong disebut seuweuna Maharesi Susuk Lampung mun teu wani meuntasan sagara! Anggursi jurungkeun! Muga kami waluya dina enggoning lalampahan!” jawab Dewi Sarkati.

Maka Dewi Sarkati pun akhirnya berangkat ke Tatar Sunda hendak menemui pujaan hatinya yang datang lewat impian. Namun, bukankah Negeri Sunda itu luas? Harus ke mana dia menuju? Perjalanan Dewi Sarkati tidak mudah, dia harus melewati pelbagai tantangan dan rintangan yang mengadang, bahkan putri Maharesi Susuk Lampung itu hampir diperkosa oleh kawanan begal di sebuah hutan dekat Kawali.

 

Dewi Mayangsari

Di lingkungan keraton Sunda, salah seorang putri Prabu Bunisora Suradipati, yakni Dewi Mayangsari—sepupunya Wastu Kancana, yang dulu kawan bermainnya sewaktu bocah—kini telah tumbuh dewasa. Dia juga menyimpan hati kepada kakak sepupunya tersebut, pun sebaliknya Wastu Kancana—meski fokusnya tetap kepada Dewi Sarkati.

Singkat cerita, Dewi Sarkati akhirnya dapat mencapai Kawali setelah sebelumnya ditolong oleh Rakean Hujung saat hendak diperkosa oleh kawanan begal. Ya, Rakean Hujung kawan seperjalanan Wastu Kancana saat berkelana ke Pakuan dan Lampung.

Kegembiraan pun tumpah di keraton. Pelbagai persiapan dipercepat untuk acara pernikahan Wastu Kancana dan Dewi Sarkati. Di tengah kesibukan itu, Dewi Sarkati mulai dekat dengan Dewi Mayangsari, dan dia melihat bahwa putri Prabu Bunisora Suradipati itu seperti dirinya: mencintai Wastu Kancana.    

Maka sehari sebelum pernikahannya dengan Wastu Kancana, Dewi Sarkati mengajukan satu permintaan yang harus dipenuhi: Wastu Kancana boleh menikahinya asal sekaligus dengan Dewi Mayangsari. Tanpa diduga banyak orang, calon Raja Sunda itu akan menikahi dua perempuan sekaligus!

Selain itu, pada kesempatan yang hampir bersamaan, Wastu Kancana yang belum juga menyanggupi untuk menjadi raja, oleh para tetua diberi gelar Prabu Wangisutah.  (irf)