08 April 2022

Cerpen yang Memicu Perdebatan Lama tentang Trotskyisme


 “Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjempul ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi […]”

Nurlan alias Martin Aleida (selanjutnya ditulis Martin) membuka cerpennya yang bertajuk Melarung Bro di Nantalu dengan kata-kata “ajal”, “mati”, dan “kubur”. Ia menceritakan seorang tokoh yang terkatung-katung di negeri orang, dan tak bisa kembali ke tanah air Indonesia karena terhalang situasi politik pasca 1965.

Jika membaca buku Melawan dengan Restoran (2007) karya Sobron Aidit & Budi Kurniawan, Surat Kepada Tuhan (2002) yang merupakan memoar Sobron Aidit, dan buku-buku lain—baik karya Sobron sendiri maupun karya orang lain yang menceritakan dirinya, tokoh dalam cerpen Martin ini merupakan kisah kawannya tersebut.

Sebagai contoh, Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, Jilid 3 (2009) menulis tentang Sobron Aidit yang diundang ke Beijing dan menetap di Prancis.

“Saat meletus G30S 1965, Sobron berada di Beijing bersama sejumlah seniman dan wartawan Indonesia yang diundang ke RRT merayakan HUT RRT. Sejak itu Sobron menetap di luar negeri. Dari RRT bersama wartawan Umar Said ia boyong ke Perancis. Bersama Umar Said yang kini sudah jadi warga negara Perancis, Sobron mendirikan restoran ‘Indonesia’ di Paris,” (hlm. 184)

Apalagi Martin menulis dalam sebuah paragraf tentang tokohnya ini yang mendirikan restoran Indonesia di Paris, maka teranglah siapa tokoh yang dimaksud olehnya.

“Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia […] Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari,” tulis Martin.

Melarung Bro di Nantalu tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010. Martin menulis cerpennya dengan liris. Ada emosi tertahan, kesedihan, dan kenangan-kenangan yang membubung dalam relasi perkawanan yang jujur: tentang pertemanan masa kecil, kematian ayah sahabat yang giris, melarat di negeri orang, pertarungan batin yang merubah keyakinan, serta kesulitan pulang ke puak akibat badai politik di tanah air.

Cerpen ini kemudian dihimpun beserta cerita Martin lainnya dalam buku berjudul Mati Baik-baik, Kawan (2009). Di sampul belakang buku terdapat komentar Agung Ayu Ratih—direktur 
Institut Sejarah Sosial Indonesia, ia menulis perasan dan kesannya terhadap salah satu cerpen Martin.

Melarung Bro di Nantalu membuatku menangis […],” tulis Ratih.


 Kritik Tatiana Lukman

 Tujuh tahun sejak terbit di Jawa Pos, cerpen ini “baik-baik saja” karena respons pembaca cukup positif. Sampai akhirnya pada Juli 2017, Tatiana Lukman (anak mantan Wakil Ketua I CC PKI, MH. Lukman)—penulis buku Panta Rhei: Tidak Ada Pengorbanan yang Sia-sia Air Sungai Digul Mengalir Terus!: 2014, menulis di Suluh Indonesia mengkritik cerpen ini karena salah satu fragmennya dianggap “kebohongan, memutarbalikkan fakta, fitnah, dan ejekan terhadap rakyat Tiongkok dan Ketua Mao”.

Fragmen yang diserang oleh Tatiana adalah ketika si tokoh (Bro/Sobron Aidit) yang tengah berada di Tiongkok bersama istrinya untuk memenuhi undangan menjadi guru bahasa Indonesia di sana, disapu Revolusi Kebudayaan (Tatiana menyebutnya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar atau RBKP) yang membuat mereka disingkirkan dari kota, digiring ke perdesaan dan dipaksa melakukan kerja badan, bertani, serta memungut kotoran manusia untuk pupuk tanaman.

“Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, ‘Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,’ hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas,” tulis Martin menggambarkan prahara yang menempa Bro.

Karena tak tahan dalam pusaran Revolusi Kebudayaan, Bro akhirnya menyingkir dari Tiongkok lewat perjalanan darat yang panjang sampai akhirnya tiba di Paris.

Martin Aleida, Penulis “Ulung”, begitu judul tulisan Tatiana pada Juli 2017 di Suluh Indonesia. Ia mengawali tulisannya dengan membandingkan kualitas penulis zaman Sukarno dan Orde Baru. Martin Aleida meraih penghargaan cerpen terbaik Kompas yang berjudul Tanah Air. Dalam tulisannya Tatiana bertanya, apakah hanya Martin satu-satunya penulis, di antara 20 kandidat lain, yang mempunyai latar belakang hubungan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

“Kalau jawabannya positif, maka tidak terlalu mengherankan kemenangannya dalam kompetisinya dengan penulis-penulis yang lahir dan besar di zaman Orde Baru,” tulisnya.

Ada nada meremehkan para penulis pasca Orde Lama dari anak MH. Lukman tersebut. Ia yang hidup di Indonesia waktu Sukarno gilang-gemilang di tampuk kekuasaannya, dan saat Lekra berkibar sebagai motor kebudayaan, menganggap masa itu lebih baik daripada zaman Orde Baru: rezim yang menumpas dan menyingkirkan ia, keluarga, beserta penumpang gerbong “komunis” lainnya.

Meski demikian, dalam artikelnya Tatiana justru bukan hendak menyanjung Martin, melainkan mengkritiknya. Jika Agung Ayu Ratih dibuat menangis oleh Melarung Bro di Nantalu, ia sebaliknya. Tatiana kecewa dan marah karena Martin yang dianggapnya telah berbohong tentang kehidupan Sobron Aidit dan orang-orang Indonesia lainnya di Tiongkok, serta terhadap RBKP.

“Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk,” tulis Martin.

Hal ini dibantah Tatiana yang menyebutkan bahwa selama Revolusi Kebudayaan, Sobron dan orang-orang Indonesia lainnya mendapatkan makan, minum, tempat tinggal gratis, dan untuk menghadapi suhu panas lebih dari 40 derajat celcius, orang bisa beli balok es untuk ditaruh di bawah tempat tidurnya. Pendingin tersebut adalah barang mewah di waktu itu.

“Siapa yang mencap dan menjadikan orang-orang Indonesia sasaran Revolusi Kebudayaan? Siapa yang menyingkirkan dan menuduh orang-orang Indonesia terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya? Dari 120 orang Indonesia yang tinggal satu kompleks dengan saya, tak satupun yang pernah jadi sasaran RBKP!” tambah Tatiana.

Tak cukup itu, Tatiana juga menyebutkan bahwa untuk menghindari panas yang sangat menyengat, orang-orang Indonesia malah pernah diundang tuan rumah untuk berlibur ke 
Tsingdao, kota pesisir di timur Tiongkok. Dan mereka dijamu dengan tinggal di hotel, pemandangan tepi laut, serta makan enak. Hanya karena pertentangan internal saja sebagian dari mereka akhirnya tidak ikut ke Tsingdao.

Revolusi Kebudayaan yang dikobarkan Mao mendorong mahasiswa dan kaum intelektual lainnya untuk pergi ke perdesaan, tinggal dan bekerja bersama kaum tani. Hal ini, menurut Tatiana, juga pernah dilakukan Lekra dengan program “turba” (turun ke bawah) yang mengedepankan doktrin “tiga sama”: sama bekerja, sama makan, sama tidur. Martin sebagai bekas sastrawan Lekra dan wartawan Harian Rakjat, tambah Tatiana, mestinya paham dengan kebijakan tersebut.

“Apa Martin sudah lupa [dengan kebijakan Lekra]? Mao juga mengajarkan rakyatnya untuk belajar kepada kaum tani,” ujarnya.

Fragmen lain yang tidak berkenan bagi Tatiana adalah ketika Martin menceritakan nasib Sobron saat mula-mula tiba di Paris. Martin menggambarkan Sobron tak ubahnya gelandangan yang tak habis dirundung malang.

“Bro dan kawan-kawannya yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju,” tulis Martin.

Ia menegaskan bahwa Sobron sudah ditunggu banyak kawan yang lebih duluan menetap di Paris. Adik D.N. Aidit tersebut tidak terdampar sendiri, juga tidak kelaparan di Paris.

“Lukisan patetis ini hanyalah fantasi!” bantahnya.

Kegeraman Tatiana bertalu-talu. Saat Martin melukiskan perjalanan hidup Sobron sebagai hidup yang tidak biasa dan tiada tara, ia menyangkalnya dengan sinis, “Aduh, begitu dramatis dan penuh heroisme!"

Ia menjelaskan bahwa kehidupan Sobron sama seperi orang kebanyakan: makan, minum, dan tidur gratis. Ia menambahkan, istrinya meninggal pun bukan karena “hukuman” atau “siksaan” atau tidak bisa bayar ongkos pengobatan.

Setelah menjelaskan hakikat Revolusi Kebudayaan dan situasi politik Tiongkok pasca Mao Tse-Tung, serta menuduh orang-orang Indonesia yang keluar dari Tiongkok dan hidup makmur di negeri-negeri maju sebagai revisionis dan pendukung restorasi kapitalis Deng Xiao-ping, Tatiana mengusulkan agar Martin mempelajari Revolusi Besar Kebudayaan Proletar.

“Usul saya kepada Martin, pelajari sendiri apa sebenarnya hakikat dari RBKP. Jangan hanya menelan bulat-bulat propaganda imperialis anti-Mao dan anti-komunis seperti mereka yang masing ‘mengunyah-ngunyah’ propaganda Orde Baru tentang peristiwa 1965,” ujarnya.


Tanggapan Martin Aleida dan Ihwal Sumber Sekunder

20 Juli 2017, Martin menanggapi kritik Tatiana yang cukup panjang tersebut di status facebook-nya. Pendek dan santai saja ia menanggapinya. Ia bahkan membuka facebook dalam perjalanan pulang sehabis belanja dari Pasar Minggu. Sebuah foto menyertai: foto dirinya yang tengah duduk di pagar tembok sebuah rumah. Ia bercelana pendek, mengenakan sepatu, dan memegang dua buah jinjingan.

Dalam tanggapannya yang pendek tersebut, ia menekankan pada tuduhan Tatiana tentang kaum imperialis dan orang-orang Trotskyis yang menganggap Revolusi Kebudayaan sebagai hukuman dan siksaan, serta sikap mereka yang meremehkan dan menghina kaum tani.

“[…] Saya senang dia cap saya sebagai Trotskyis, budayawan yang saya kagumi. Ketika berkunjung ke Turki beberapa tahun lalu, saya mampir ke pulau Buyucuda di mana Trotsky sempat bersembunyi dari persekusi rezim Stalin sebelum dia terdampar di Meksiko tempat kepalanya dipenggal dengan kampak oleh pemuja setan. Saya anjurkan Tatiana membaca Trotsky dalam Literature and Marxism-nya Terry Eagleton dan meneliti Trotsky bukan dari tulisan mereka yang berbulu dan berhati musang […],” tulisnya.

Kritik Tatiana terhadap karya Martin khususnya cerpen Melarung Bro di Nantalu, awalnya dipicu saat Martin berkomentar di acara diskusi buku karya Tatiana berjudul Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016) yang diadakan pada Mei 2017.

Kata Tatiana, Martin berkomentar dan menyatakan pendapatnya terhadap buku tersebut bahwa ia tidak percaya pada tulisan yang berasal dari sumber sekunder. Menanggapi hal tersebut, Tatiana menyebut bahwa kalau begitu semua buku sejarah tidak ada yang patut dipercayai jika kita mengikuti logika Martin.

“Lantas bagaimana mereka yang ingin menulis dan menganalisa kejadian-kejadian sejarah yang para pelakunya sudah meninggal? […] Tidak mungkin kita mewawancarai langsung, misalnya, Pangeran Diponegoro, atau Lenin, atau Trotsky, atau Napoleon!” tambahnya.

Dua bulan setelah acara diskusi tersebut, terbitlah tulisan Tatiana di 
Suluh Indonesia daring, yang selain menyerang soal Revolusi Kebudayaan, juga menyerang sumber yang digunakan Martin dalam menulis cerpen Melarung Bro di Nantalu.

Karena beberapa fragmen kisah dalam cerpen tersebut bertentangan dengan realita, maka Tatiana meragukan sumber penulisannya. Ia tahu bahwa kisah yang diceritakan Martin adalah perjalanan hidup Sobron Aidit, tapi ia meragukan apakah benar Sobron menceritakannya langsung kepada Martin pengalamannya hidupnya selama di luar negeri? Karena hal ini akan menentukan sumber tersebut, apakah primer atau sekunder.

Sampai di sana sebetulnya serangan Tatiana sudah cukup untuk membalas ketidakpercayaan Martin terhadap sumber sekunder dalam diskusi buku Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016). Namun rupanya Tatiana meneruskannya dengan sergapan lain.

“Anggaplah Martin bertolak dari sumber primer, karena ia tidak percaya pada sumber primer sekunder. Bagaimana kalau sumber primernya itu berisi kebohongan dan memutarbalikkan fakta, seperti yang terjadi pada Melarung Bro di Nantalu?” ujarnya.

Dari sini kemudian Tatiana menjelentrehkan kehidupan Sobron Aidit saat di Tiongkok dan Paris, kehidupan orang-orang Indonesia di Tiongkok saat terjadi Kebudayaan Revolusi, dan pandangannya terhadap orang-orang yang ia anggap sebagai pengkhianat.

Karena buku Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016) dan cerpen Melarung Bro di Nantalu adalah dua teks yang berbeda, yang satu fiksi dan satu lagi nonfiksi, maka Martin dalam status facebooknya menjawab:

“Sayang eksil yang pernah menetap lama di Kubanya Castro ini tak bisa membedakan cara membaca fiksi dan nonfiksi. Dia jadikan kenyataan literer dalam cerita pendek saya sebagai fakta historis,” tulisnya.

Tanggapan Martin di Facebook kemudian 
ditanggapi lagi oleh Tatiana di media yang sama dengan tulisan pertamanya, yang membuat persoalan menjadi berlarat-larat. Karena disebut tak bisa membedakan teks fiksi dan nonfiksi, pada tulisannya yang kedua ini Tatiana berusaha memblejeti apa yang dimaksud dengan cerita fiksi.

Ia memperkuat argumennya dengan mengutip Hilmar Farid yang ikut mengomentari cerpen Melarung Bro di Nantalu. Menurut Hilmar Farid, cerpen tersebut menghidupkan pertanyaan lama tentang batas prosa dan puisi, fiksi dan fakta, dalam hal ini obituari dan cerita.

“Bahkan, menurut Hilmar, obituari! Obituarinya Sobron Aidit!” tulis Tatiana yang tengah berargumen bahwa Melarung Bro di Nantalu menceritakan kehidupan nyata, bukan rekaan.

Setelah itu Tatiana kembali tancap gas dengan menyerang Martin soal sumber sekunder lagi. Lalu soal Trotsky dan Lenin.

Tulisan keduanya ini tak ditanggapi oleh Martin. Perdebatan terhenti. Dan hanya menyisakan serak jejak digital.

Saat dihubungi Tirto.id, Selasa (13/3/2018), apakah dia ada tanggapan lain yang lebih komprehensif terhadap kritikan Tatiana, Martin Aleida hanya menjawab singkat, “Tidak! Saya tidak tertarik pada Tatiana. Ibarruri (anak sulung D.N. Aidit) bilang, 'cuma Tuhan yang tidak (dia) debat.' Salam.” (irf)

17 February 2022

10 Lagu Queen untuk Gelombang Ketiga


Covid-19 belum berakhir.  Kiwari datang varian baru: Omicron. Konon gejalanya ringan, artinya tidak seganas varian Delta yang sebelumnya menyapu begitu banyak kolega. Namun, daya sebar Omicron begitu tinggi. 

Sekira seminggu yang lalu, saya tiba-tiba sakit kepala parah dan demam tinggi. Setelah itu diikuti batuk dan pilek yang seolah tak habis-habis. Enam hari kemudian saya ke dokter, sekarang kondisi agak mendingan. 

Di tengah mengurung diri di rumah, Queen banyak menemani. Sebetulnya belakangan saya banyak sekali mendengarkan band-band lain, namun entah kenapa kuping saya paling cocok dengan Queen. Farrokh Bulsara memang tiada dua. Suaranya pilih tanding. 

Maka demikianlah, di tengah cuaca yang tak menentu, linimasa twitter yang kerap membara, dan batuk yang sesekali masih menghampiri, 10 lagu berikut kiranya dapat menemani berselancar menaklukkan gelombang ketiga ini...


1. Good Old Fashioned Lover Boy



2. Life is Real (Song for Lennon)



3. My Melancholy Blues


4. Dreamer’s Ball



5. Jealousy


6. You Take My Breath Away



 7. Somebody to Love

1.     


8. 8.

1.       8.  All Dead, All Dead



9.  Killer Queen



10  10.   The Millionaire Waltz



1.     

10 November 2021

Hikayat Panjang Banjir di Bandung


Banjir di Bandung, terutama di sejumlah daerah di sekitar tepi sungai Citarum, adalah kisah berulang. Setiap tahun, pelbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi atau bahkan mencegahnya. Dana yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Namun, kabar belum juga berubah.

Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Cicalengka, Kutawaringin, dan Ibun, yang semuanya masuk wilayah Kabupaten Bandung, menjadi langganan banjir ketika musim hujan datang.

Salah satu daerah yang paling parah mengalami banjir adalah Dayeuhkolot. Sebagai contoh, sejak Selasa (9/4/2019), di sejumlah kanal media sosial beredar video tentang seorang 
suami menggendong istrinya yang tengah hamil menembus banjir setinggi leher.


Pemindahan Ibukota

Sejak wilayah Priangan dimekarkan oleh Sultan Agung setelah penangkapan Dipati Ukur pada 1632, ibukota Kabupaten Bandung mula-mula berada di daerah yang dulu bernama Karapyak, terletak persis di tepi sungai Citarum. Daerah ini kelak bernama Dayeuhkolot yang artinya kota tua.

Setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merampungkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan, ia memerintahkan kepada sejumlah bupati untuk memindahkan ibukota kabupaten.

Di Priangan, ibukota yang harus dipindahkan ke tepi Jalan Raya Pos adalah ibukota Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang. Lewat surat keputusan bertitimangsa 25 Mei 1810, Daendels memerintahkan Bupati Bandung Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibukota ke tepi Jalan Raya Pos.

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad in gebouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali ke sini telah dibangun sebuah kota!)” ucap Daendels kepada Wiranatakusumah II seperti terdapat dalam Sejarah Kota Bandung 1945-1979 (1985) yang ditulis oleh Edi S. Ekadjati dan kawan-kawan.

Konon, Daendels berkata seperti itu sambil menancapkan tongkat di pinggir Jalan Raya Pos yang kini menjadi titik nol kilometer Kota Bandung di sisi Jalan Asia Afrika. Pemindahan sejumlah ibukota kabupaten tersebut dilakukan untuk memudahkan koordinasi.

Dalam laporan jurnalistik Kompas yang bertajuk Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008) disebutkan, Jalan Raya Pos mula-mula difungsikan untuk memperlancar komunikasi antara Batavia dengan daerah-daerah di Jawa. Setelah selesai dibangun, jalan ini mampu memangkas waktu tempuh pengiriman pesan dan surat.

“Semula dari Batavia ke Surabaya memerlukan waktu tempuh satu bulan. Dengan adanya jalan ini, waktu tempuh menjadi 3 sampai 4 hari saja,” tulis Kompas.

Selain itu, jalan ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Ketika Daendels tiba di Hindia Belanda, posisi angkatan perang Inggris telah mengancam Jawa. Jadi, jika suatu saat Inggris menyerang Jawa, maka jalan ini digunakan untuk mobilitas pasukan Belanda.

“Apa pun tugas yang dikatakan diembannya, yang terpenting adalah pertahanan militer terhadap serangan Inggris,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menerangkan tugas Gubernur Jenderal tersebut.

Kisah tentang pembangunan Jalan Raya Pos inilah yang menjadi narasi utama dalam pelbagai catatan sejarah tentang pemindahan ibukota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke sekitar Alun-alun Bandung sekarang. Pemindahan ibukota ini pula yang sekarang dijadikan sebagai 
hari ulangtahun Kota Bandung.


Banjir dan Inisiatif Wiranatakusumah II

Narasi tersebut tidak sedikit pun menyinggung soal banjir yang kerap menerjang Karapyak yang letaknya di tepi sungai Citarum. Namun, menurut catatan Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), satu tahun sebelum turun perintah Daendels, Wiranatakusumah II telah berinisiatif hendak memindahkan ibukota Kabupaten Bandung ke arah utara karena sering dilanda banjir.

Mula-mula Wiranatakusumah II mencari lokasi baru untuk ibukota Kabupaten Bandung di daerah Bojonagara, tepatnya di Kampung Cikalintu, dekat masjid besar Jalan Cipaganti sekarang.

“Di tempat itu, pertama kali Wiranatakusumah II membangun rumah tinggalnya” tulis Kunto.

Ia menambahkan, Kampung Cikalintu dipilih Wiranatakusumah II sebagai calon ibukota baru berdasarkan sejumlah alasan. Pertama, mengacu pada catatan Andries de Wilde (tuan tanah di daerah Priangan), yang menyebut lahan sebelah selatan adalah daerah basah yang berawa-rawa. Sementara daerah Bandung utara lebih cocok untuk permukiman karena hawanya sejuk dan lingkungannya sehat.

Alasan kedua, sebelah utara Bandung terdapat sejumlah perkampungan penduduk seperti Kampung Balubur, Kampung Gadog, Dago, Gegerkalong Girang, dan Babakan Bogor.

Dan pertimbangan ketiga adalah karena daerah tersebut memenuhi syarat kepercayaan lokal, yakni bekas kubangan badak putih yang berarti lahan itu memiliki sumber air, baik berupa mata air ataupun aliran sungai.

Tidak jauh dari Kampung Cikalintu yang dipilih oleh Wiranatakusumah II, memang terdapat mata air Pancuran Tujuh di daerah Cikendi, Ledeng di daerah Jalan Setiabudi, dan Sungai Cikapundung. Dan tak jauh dari sana terdapat juga daerah yang bernama Rancabadak. Dulu orang Bandung menyebut Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan sebutan Rumah Sakit Rancabadak.

Namun, saat perintah pemindahan ibukota turun, ternyata Kampung Cikalintu jaraknya jauh dari Jalan Raya Pos. Oleh karena itu Wiranatakusumah II mencari lokasi lain. Pilihan selanjutnya adalah Babakan Bogor yang sekarang bernama Kebonkawung (daerah sekitar Stasiun Bandung).

Babakan Bogor juga memenuhi syarat lokal dengan terdapatnya mata air Ciguriang yang sampai sekarang masih ada, dan dulu dijadikan sebagai pusat mencuci oleh para penatu.

“Namun, rupanya Kebonkawung (Babakan Bogor) masih belum memenuhi syarat buat mendirikan kabupaten beserta alun-alunnya,” imbuh Kunto.

Akhirnya, Wiranatakusumah II menemukan lokasi yang cocok sebagai ibukota, yakni di sisi Jalan Raya Pos dan tak jauh dari aliran Sungai Cikapundung. Selain itu, di lokasi ini pun terdapat sejumlah mata air yang disebut Sumur Bandung.

Jika dibandingkan dengan perintah Daendels untuk memindahkan ibukota ke sisi Jalan Raya Pos, pemilihan lokasi yang dilakukan oleh Wiranatakusumah II ternyata sesuai. Narasi ini barangkali versi lokal untuk menafikan atau setidaknya tidak terlalu mengagungkan pengaruh kolonialisme dalam peristiwa pemindahan ibukota Kabupaten Bandung.

Dan dari keseluruhan kedua versi ini, banjir di Bandung tempo dulu tak terlampau banyak dikisahkan. (irf)

02 November 2021

Hikayat Jersi Sepakbola

Dulu di kampung, orang-orang menyebut seragam sepakbola sebagai “kaos tim”, atau biasa disingkat “kostim”. Belakangan, saat liga sepakbola Eropa begitu populer, sebutan itu berubah menjadi jersey atau jersi.

Jersey adalah nama pulau di Kepulauan Britania. Konon dari pulau inilah jersi bermula.

Memasuki usia kuliah, saya hampir sepenuhnya meninggalkan sepakbola. Maka itu, tak ada ketertarikan untuk membeli jersi. Namun ironisnya, di masa kuliah pula saya pertama kali memakai jersi untuk dipakai sehari-hari.

Jersi pertama saya sebetulnya milik si Zul, kawan kuliah, orang Bukittinggi. Tak inget betul bagaimana akhirnya jersi itu bisa beralih ke tangan saya. Jersi tersebut adalah Real Madrid away 2000/2001, warnanya hitam dengan trigaris Adidas berwarna oranye. Kainnya tipis tapi adem, maklum KW. Sering banget saya pakai sehari-hari sampai kemudian hilang entah ke mana.

Tahun 2009, saya mulai kerja di Pulogadung dan mulai menyukai lagi sepakbola, tapi sebatas menonton Liga Inggris. Karena bosan dengan klub-klub besar, maka saya memilih satu klub medioker: West Ham United (WHU). Bersama si Oki, kawan sekosan, saya membeli jersi WHU home 2012/2013 yang tentu saja KW, di Pasar Ular. Sayang agak kekecilan.

Jersi selanjutnya adalah Arsenal home 2012/2013, dikasih si Jun, juga kawan sekosan, yang berjualan baju Muslim di ITC Cempaka Mas. Maklum karena bukan suporter fanatik, maka dia mudah saja menghibahkan jersi klub favoritnya. Karena sering dicuci, tulisan “Fly Emirates”-nya pelan-pelan menghilang.

Warsa 2014 saya keluar dari pekerjaan di Pulogadung dan kembali ke Bandung. Masih mendukung WHU meski jarang nonton. Saya kemudian membeli jersi WHU home 2015/2016 dengan uang honor tulisan. Saat basecamp komunitas tempat saya tinggal pindah, jersi itu hilang.

Tahun-tahun berikutnya saya kembali kerja di Jakarta, dan baru membeli jersi WHU lagi yang musim 2020/2021 (home). Musim berikutnya, WHU home datang lagi, tapi kali kekecilan, akhirnya dipakai istri.

Di tengah penampilan WHU yang kian membaik, AC Milan—klub favorit masa kecil—hadir dengan jersi home 2020/2021 yang sangat ciamik. Demi nostalgia, saya menukarnya dengan sejumlah uang.

Setahun kemudian saya mulai mengikuti lagi pertandingan-pertandingan bulu tangkis para pemain Indonesia. Mulai dari Olimpiade Tokyo, Piala Sudirman, Piala Thomas, Piala  Uber, Denmark Terbuka, hingga Prancis Terbuka. Di tengah demam bulu tangkis, saya akhirnya membeli dua raket Lining super KW dengan bonus tempat raket dan grip handuk.

Mula-mula kami hanya bermain di depan rumah dan di Cieunteung, tapi kemudian sejumlah kawan mengajak bermain di GOR yang kesannya lebih serius dan bebas angin. Karena saya cepat berkeringat dengan jumlah banyak, maka jersi pun saya tambah untuk bermain bulu tangkis.

Jersi sepakbola yang dibeli dengan niat untuk dipakai bermain bulu tangkis mula-mula adalah Persib home 2021/2022. Inilah pertama kalinya saya membeli jersi original, meskipun hanya jersi edisi suporter yang harganya pun jauh di bawah jersi original player issue.      

Kini saya tengah menunggu kedatangan jersi Ajax away 2021/2022 yang dibeli dari market place.  

Saya kira, menjadi Ucup Bajaj Bajuri seru juga, meskipun jersi-jersi itu kebanyakan hanya saya pakai saat bermain bulu tangkis. [ ] 

21 September 2021

The Lowland: Ketika Ideologi dan Keluarga Tak Bisa Berdamai

 

Udayan dan Subhash adalah adik kakak yang lahir dan tinggal di Tollygunge, Kolkata Selatan, Benggala Barat, India. Usia keduanya terpaut 15 bulan. Sewaktu kecil, mereka selalu bersama-sama, termasuk saat “menembus” tembok Tolly Club, wilayah bekas orang-orang Inggris bermain golf. Hingga suatu saat mereka ketahuan polisi club yang sedang berpatroli dan menghukumnya.

Sejak kecil, Udayan lebih aktif dibanding kakaknya. Hal ini terbawa hingga besar. Ketika Subhash meneruskan kuliah ke Amerika Serikat, Udayan justru memilih menjadi guru dan bergabung dengan salah satu partai komunis di India. Ia bersama para kameradnya bergerak secara klandestin dan kerap menjadi buruan aparat.

Sementara Udayan akhirnya menikahi Gauri, adik kawannya, Subhash justru terlibat percintaan dengan Holly, perempuan setengah baya yang punya satu anak dan telah berpisah dengan suaminya.

Pernikahan Udayan dengan Gauri tak direstui keluarga kedua belah pihak. Gauri telah diusir, kecuali oleh kakaknya. Namun, meski orang tua Udayan tidak merestui, mereka masih mau menerima pasangan muda itu untuk tinggal di Tollygunge.

Jarak yang begitu jauh memisahkan Udayan dengan Subhash membuat mereka tidak mengetahui kondisi masing-masing yang sebenarnya. Udayan tidak tahu jika Subhash menjalin hubungan dengan Holly. Sementara Subhash tidak tahu jika Udayan kian aktif di partai komunis yang kian membahayakan dirinya. Hingga suatu hari sebuah telegram datang ke Rhode Island, AS, tempat tinggal Subhash:

“Udayan tewas. Pulanglah jika kamu bisa.”

***

Ketika Udayan tewas diberondong oleh polisi, dia tidak tahu jika Gauri, istrinya, tengah mengandung. Di Tollygunge, Subhash mendapati bahwa kedua orang tuanya terlihat tidak menyayangi Gauri: restu belum juga diberi sejak pernikahan. Mereka hanya menunggu Gauri melahirkan. Rencananya mereka akan merawat anak Udayan dan mengusir ibunya.

Subhash mengambil keputusan penting. Dia menikahi Gauri demi menyelamatkan mantan istri adiknya beserta anaknya dari kesewenang-wenangan orang tuanya. Setelah melewati pelbagai ketegangan, Gauri akhirnya berangkat ke AS untuk menyusul Subhash.

Selama mengandung, Subhash tak berani menyentuh Gauri, yang kini telah menjadi istrinya. Komunikasi mereka juga masih kaku. Bagaimana tidak, dari ipar menjadi istri sendiri.

Gauri akhirnya melahirkan anak perempuan yang diberi nama Bela. Sejak punya anak, Gauri yang masih dihantui tragedi pembunuhan Udayan merasa hampa, dia tak terlalu sayang kepada Bela dan Subhash. Hal ini kemudian mencapai puncaknya. Saat Subhash dan Bela baru pulang dari India karena ayahnya meninggal, Gauri telah meninggalkan mereka dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditulis memakai bahasa Bengali:

“Aku tidak membuat keputusan ini dengan tergesa-gesa. Dari segala segi, aku telah memikirkannya selama bertahun-tahun. Kamu berusaha sebaik-baiknya. Demikian juga aku, tetapi tidak juga ketemu. Kita telah berusaha untuk meyakini bahwa kita akan menjadi teman satu sama lain.

…………………………………………………………..

Selamat, Subhash. Dan juga selamat tinggal. Sebagai balasan atas semua yang telah kamu lakukan untukku, aku tinggalkan Bela untukmu.”

Gauri pergi ke California untuk mengajar di sebuah kampus. Sementara Subhash memutar otak bagaimana menyampaikan perpisahan ini kepada Bela yang masih kecil. Tapi waktu akhirnya mampu mengatasi segalanya. Bela beranjak dewasa. Setelah lulus kuliah, dia bertualang ke pelosok AS, menyambangi para petani, orang-orang miskin, dan mengajar anak. Aktivitasnya menyerupai Udayan, ayahnya yang tak pernah ia lihat, yakni menolong masyarakat.

Ketika Subhash mulai menua, ibunya di India telah pikun. Subhash kembali hidup sendirian: tanpa Udayan, tanpa Gauri, tanpa Bela, tanpa kedua orang tuanya. Hingga suatu saat, seorang perempuan seusianya, sama-sama tua, yang sudah punya anak dan cucu datang dalam hidupnya. Selain itu, Bela akhirnya kembali ke Rhode Island, ia mengandung. Setelah lahir, anaknya diberi nama Meghna.

***

“Berani-beraninya kamu menapak di rumah ini!” kata Bela kepada Gauri saat ibunya datang ke rumah Subhash di Rhode Island.

“Keluar. Pergilah kembali pada apa pun yang lebih penting,” lanjut Bela.

Gauri akhirnya pergi, meninggalkan cucu dan anaknya yang tak akan pernah memaafkannya. Ia bahkan tak sempat bertemu dengan Subhash, suaminya.

***

The Lowland atau Tanah Cekung yang tebalnya 591 halaman, secara getir menggambarkan bagaimana ideologi dan keluarga yang tak terdamaikan. Tragedi kematian Udayan membawa persoalan yang rumit bagi orang-orang terdekatnya, dan berkelindan selama puluhan. Kasih sayang raib, yang ada hanya kosong.

Hubungan Subhash dan Gauri yang dingin dan gagal, juga bagaimana Bela selama puluhan tahun tidak tahu siapa ayah sebenarnnya, dan dengan kejam ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Sementara Gauri yang cintanya tercerabut bersamaan dengan tewasnya Udayan, tak mampu lagi membangun hubungan rumah tangga untuk selamanya. Hatinya telah tandus.

Begitu pula kedua orang tua Udayan. Mereka hanya bisa diam di tengah peristiwa yang membuat jiwa keduanya remuk redam. (irf)