22 June 2021

Menjadi Pengantin lewat Kematian


Sejauh saya membaca karya-karya fiksi berbahasa Sunda, sangat jarang yang mengangkat tema krisis kejiwaan kaum remaja. Dan sekali ini saya menemukan tema itu yang ditulis oleh Deden Abdul Aziz setebal 56 halaman. Buku tipis ini saya beli di “toko buku” Laris di Pasar Dayeuhkolot, Kab. Bandung.

Kenapa toko buku saya kasih tanda kutip? Sebab sebetulnya hanya toko ATK. Sejumlah novel remaja dan beberapa roman berbahasa Sunda, yang semuanya tipis-tipis, sangat sedikit.

Pangantén (pengantin) terbit pertama kali tahun 2003. Latar kisah di Kota Bandung. Gaya penulisan dan pemilihan kosakata disesuaikan dengan bahasa pergaulan kontemporer. Mak tak heran cerita ini banyak memakai bahasa Sunda sehari-hari atau bahasa Sunda loma, bahkan menjurus kasar. Juga banyak disisipi bahasa Inggris sebagai penekanan bahwa lakon ini adalah tentang remaja.

Adalah Rinrin, tokoh utama yang hidup berdua dengan ibunya yang ia panggil Emih. Hubungan keduanya cenderung bebas dan demokratis. Ibu-anak ini sama-sama perokok dan sesekali menenggak minuman beralkohol. Tak saling mengganggu privasi masing-masing. Meski Rinrin jarang pulang, Emih tak ambil pusing. Baginya, anak perempuannya itu sudah dewasa, sudah dapat menentukan pilihannya sendiri.

Namun relasi mereka tak berarti kering. Keduanya kerap terlibat dalam obrolan intim dan lama, sembari merokok dan minum martini. Sekali waktu, Rinrin mengutarakan keinginannya pada Emih: ingin menikah.

“Sama siapa?”

“Sudah ada pasangannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak mampu dijawab oleh Rinrin. Keinginan Rinrin memang sejatinya tidak berangkat dari landasan sederhana, ihwal pernikahan biasa. Namun berpangkal dari krisis kejiwaannya yang rumit.

Ia perempuan tomboi, atau setidaknya lebih sering bergaul dengan laki-laki daripada dengan perempuan. Rinrin muak dengan lingkungan pertemanan perempuan yang menurutnya: “babarengan jeung batur papada awéwé leuwih pikacuaeun, sarébu kali pikageuleuheun.”       

Sebaliknya, meski banyak bergaul dengan laki-laki, sebetulnya dia juga menyimpan kebencian yang sama. Simak pengakuannya, “Naon anu pangdipikasieunna ku awéwé, mahluk nu mémang sabenerna, kanyatanana lemes, lemah? Ngadéngé omongan nu sugal garihal, ningali batur nu sasama awéwé deui diobrolkeun bari dijejeléh, ngadéngé lalaki tingsaruit atawa ngahéotan awéwé bari tingcakakak teu uni. Cua. Ngéwa, jero-jerona mah, teu rido.”

Di tengah situasi perang batin seperti itulah Rinrin jatuh cinta pada Gumilang yang ia panggil Iyang, kawannya. Sejumlah alasan ia kemukakan kenapa suka kepada kawannya itu. Intinya, menurut dia, laki-laki lebih sportif, simple, dan tak suka banyak bacot. Contohnya dalam memperlakukan sesama jenisnya yang doyan gibah.

“Lalaki mah tara ngumbar kagoréngan baturna, sanajan éta kagoréngan téh nampeu. Lamun aya lalaki nu boga biwir siga awéwé, resep nyaritakeun kagoréngan batur, tong nungguan sapoé dua poé, harita kénéh gé pasti dijarauhan. Lalaki mah umumna tara loba unak-anik. Simple,” ungkapnya.

Sebagaimana dirinya, Iyang juga ternyata mengalami krisis kejiwaan. Ujungnya dia tewas overdosis di Cipanas, setelah sebelumnya mengatakan bahwa dia ingin menikah.  

Sepeninggal Iyang, Rinrin semakin jarang pulang. Ia lebih sering tinggal di kontrakan kawan laki-lakinya, Ben, yang juga kawan Iyang. Atau di parténon di Jalan Solontongan—tongkrongan tempat ia dan kawan-kawan laki-lakinya menghabiskan waktu.

Namun, belakangan tongkrongan itu hanya kerap disinggahi oleh Rinrin dan Suminar—perempuan baru dalam lingkungan laki-laki. Mula-mula hubungan keduanya dingin. Rinrin merasa terganggu, merasa ruang privasinya dijarah orang. Seiring waktu, hubungan itu berangsur baik, bahkan keduanya semakin erat dan tenggelam dalam petualangan sebagai pengutil.

Dan lagi-lagi hubungan itu tak berlangsung lama. Suatu hari Suminar curhat kepada Rinrin bahwa dirinya tengah mengandung. Namun ia tak mau menyebutkan siapa yang telah menghamilinya. Yang terjadi kemudian: Suminar meninggal setelah menjalani aborsi. Rinrin semakin terbenam dalam kesepian. Sebelum meninggal, sebagaimana Iyang, Suminar juga mengungkapkan bahwa dirinya akan kawin.

Kisah ini juga dipungkas, lagi-lagi, oleh kematian. Kali ini Rinrin yang ingin menikah dan menjadi “pengantin”.

“Urang maké baju bodas. Makuta keretas. Karémbong sutra kayas. Digantélan roncé malati nyacas. Urang tulus jadi pangantén. Hawar-hawar sora nu ngaderes Yasin. Sora nu sumegruk. Urang didangdanan. Geus kumpul kabéh, gerentes haté! Tinggal hiji. Tinggal hiji deui. Tapi naha Emih dianggoan hideung-hideung? Éh, kapan urang keur dirapalan.”

Selama membaca Pangantén, saya teringat cerita-cerita yang ditulis Haruki Murakami. Cerita-cerita yang juga tentang krisis kejiwaan para remaja di Jepang. Maka setelah menamatkan buku ini, saya membaca kembali Dengarlah Nyanyian Angin. (irf)

20 June 2021

Melancong ke Situ Cileunca di Pangalengan


Sejak Jumat saya cuti. Lima hari, sisa tahun 2020. Ya, di kantor saya cuti tahunan bisa diakumulasi ke tahun berikutnya. Pandemi menggila lagi. Seharian hanya di rumah: baca buku, menulis, dan membersihkan rantai sepeda. Berhari-hari cuaca Bandung terus mendung. Sore hujan deras. Besoknya mendung lagi.

Ahad datang. Saya memanaskan motor. Lalu tancap gas ke selatan, ke Pangalengan. Jalanan sepi. Kabut. Udara sebenar dingin. Kurang dari satu jam sudah sampai di Situ Cileunca, tak jauh dari bundaran Pangalengan.

Warung-warung sepi dan dingin. Sarapan terbaik adalah mie rebus, gorengan, cabe rawit, dan dipungkas oleh Gudang Garam Filter. Tapi saya sudah berhenti merokok. Hanya uap dingin yang berembus dari mulut, seperti di film-film Barat.   

Saya datang ke Situ Cileunca dengan pikiran yang dijauhkan dari soal-soal sejarah. Entah pemberontakan PETA Cileunca, ataupun perahu Belanda yang tenggelam di perairan itu. Hanya sunyi yang mengepung. Namun sesekali ditebas suara motor yang melintas.

Satu dua remaja lari-lari kecil di pinggir situ, mengejar-ngejar sehat alias olah raga. Seorang remaja putri duduk termenung sembari berjemur, tanpa kawan. Tiga bapak-bapak pesepeda gunung melintas. Sepasang kekasih jalan santai sambil membidikkan kamera hp ke banyak sudut.

Empat orang atlet kano sedang berlatih di kejauhan. Sementara “perahu turis” tengah bersandar: pengemudinya sarapan. Dua orang remaja dekil setengah mengendap-ngendap, mencari pojok yang pas buat merokok. Saat asap sigaret mereka mengepul, saya teringat lagi masa-masa jaya ketika merokok pada suhu udara rendah begitu nikmat. Lima tahun lalu, juga di sisi Situ Cileunca.

Pukul delapan pagi sinar mentari nyaris tak terasa. Hangat sedikit, sisanya gigil. Tak jauh sari situ, tepatnya di perkampungan yang terletak di bawah, orang-orang tengah menjemur kopi. Aromanya menguar dan tercium bau masam, barangkali arabika. Dua ekor anjing berkejaran. Masih di bawah, satu dua motor semenjana menggilas jalanan butut.        

Sebuah jembatan panjang membelah situ. Menghubungkan dua kampung, dapat dilalui motor. Temboknya berwarna merah, sementara bilah-bilah yang menyambungkan tembok berwarna putih, bukan besi tapi pipa plastik yang biasa dipakai untuk saluran air. Jelas kurang aman.  

Kiwari, masyarakat semakin tak kreatif. Konon jembatan itu dinamai “jembatan cinta”. Di mana-mana begitu. Tempat wisata dipenuhi tulisan “love”. Kembang dibentuk hati, bambu dibentuk hati, rumput dibentuk hati, kawat dibentuk hati. Alih-alih keren, yang nyata adalah kumuh.

Berkali-kali motor melintas di jembatan itu. Jarak dipangkas, ekonomi lebih cepat berdenyut. Saya kira, jembatan ini lebih cocok dinamai Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Ya, warga tak usah lagi memutar. Antar kampung lebih cepat terhubung.

Sedap sekali berjalan di pinggir Situ Cileunca: sepi, dingin, sedikit hangat, pandangan jauh ke perbukitan dan gunung-gunung. Juga awan, membentuk sedemikian rupa, serupa kapas beterbangan. Ketika mentari kian hangat, saya duduk berlama-lama di tembok, di pinggir situ. Diam. Hanya diam. Melihat kemilau air. Sementara istri meloncat-loncat seperti sedang olah raga. Dia menyebutnya peregangan.

Saat-saat seperti itu seperti sering terjadi delapan tahun lalu, saat saya masih bekerja di Pulogadung. Pagi-pagi membelah Jakarta. Duduk di mikrolet, Homicide di telinga. Macet, copet, klakson, debu, panas, umpatan, semuanya tak menggoyahkan. Saya anteng mendengarkan rima-rima cepat dan pampat.

Di Cileunca yang tenang, tidak ada bebek kayuh. Tak ada pedagang keliling. Tak ada ormas di area parkir. Tak ada sales Jenius. Tak ada bocah dekil penjaja tisu. Juga tak ada pengamen.

Matahari rakus memandikan punggung dengan cahayanya. Saat mulai terasa terik, saya beranjak.

Pandemi kembali menggila. Belasan tetangga terinfeksi. Rumah sakit penuh. Pasar tumpah diliburkan. Saya kembali mengurung diri. (irf)   

33 Tahun Menjadi Bobotoh Belanda

Setiap orang yang menulis kehidupan masa kecilnya harus tahu, menulis masa bocah seolah dirinya keren adalah pekerjaan sia-sia. Menulis masa lalu harus dilihat dari pandangan masa lalu, bukan sebaliknya. Diri kita yang keren saat ini tak bisa diseret ke belakang, kecuali angka-angka.

Tahun 1988 saat itu. Setahun sebelum saya masuk sekolah dasar. Suatu malam, tiba-tiba saja final Piala Eropa telah datang: Uni Soviet vs Belanda. Paman saya (alm) pegang Soviet, sementara kami—saya dan keponakannya yang lain--pegang Belanda. Kesepakatan sederhana: siapa yang timnya kalah, wajib digetok.

Gullit dan Van Basten cetak gol. Kepala paman saya habis. Sejak itulah saya menjadi bobotoh atau pendukung Belanda. Saat Trio Belanda—Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard—ke AC Milan, klub ini juga jadi favorit saya, bertahun-tahun.

Menjadi bobotoh Belanda tak pernah mudah. Sejak 1988, Belanda tak pernah juara lagi. Kutukan Piala Dunia 1974 dan 1978 selalu datang berulang.

Kita sisir Piala Eropa dulu. Warsa 1992 digelar di Swedia. Saya baru kelas 3 SD. Belanda lolos ke semifinal, namun kalah oleh Denmark dalam drama adu pinalti. Pinalti Marco Van Basten gagal. Tim dari Skandinavia ini sebetulnya hanya cadangan. Mereka menggantikan Yugoslavia yang didera Perang Balkan. Namun mereka akhirnya jadi juara dan dijuluki “dinamit”.

Piala Eropa 1996 digelar di Inggris. Saya kelas 1 SMP. Kala itu ramai istilah “Football’s Coming Home”. Nyatanya Inggris terlalu overrated. Bagaimana dengan Belanda? Tersingkir lagi dalam adu pinalti. Kali ini yang gagal mencetak gol adalah Clarence Seedorf.

Empat tahun kemudian Piala Eropa digelar di dua negara: Belanda dan Belgia. Waktu itu saya telah kelas 2 SMA. Tabloid Bola pernah menulis headline berjudul “No Frontier”, sepak bola tanpa batas. Belanda tampil begitu meyakinkan dan lolos ke semifinal, tapi lagi-lagi kalah dalam adu pinalti. Diganjal Italia dengan skor 1-3, padahal sejak menit ke-34 Italia bermain dengan 10 pemain.

Empat warsa setelahnya, atau setahun sebelum saya lulus kuliah, giliran Portugal jadi tuan rumah Piala Eropa. Di perempat final Belanda mengalahkan Swedia lewat adu pinalti, tumben. Namun di semifinal ditekuk Portugal 2-1. Kali ini yang jadi juara Yunani: sangat mengejutkan.

Piala Eropa 2008—digelar di Austria dan Swiss—adalah salah satu episode yang paling menjengkelkan. Di babak penyisihan, Belanda sangat perkasa. Italia dibantai 3-0, Prancis dilumat 4-1, dan menghajar Rumania 2-0. Namun saat berhadapan dengan Rusia di perempat final, Belanda begitu loyo, diobrak-abrik Arshavin cs hingga kalah 1-3.

Edisi berikutnya Piala Eropa digelar di Polandia dan Ukraina. Apa yang terjadi dengan Belanda pada pesta akbar sepakbola tahun 2012 itu? Sampah belaka. Mereka jadi juru kunci setelah ditekuk Denmark 0-1, dikalahkan Jerman 1-2, dan dipermalukan Portugal 2-1. Angkat kaki lebih awal.

Kemudian tahun 2016 pun datang. Kali ini Piala Eropa digelar di Prancis. Belanda lebih dari sampah. Mereka tak lolos setelah hanya finish di urutan ke-4 dalam kualifikasi. Menang 4 kali, imbang 1 kali, dan kalah 5 kali. Di klasemen akhir berada di atas Kazakhtan dan Latvia, tetapi di bawah Turki, Islandia, dan Ceko. Benar-benar busuk!

 

Piala Dunia Lebih Menyakitkan  

Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti Belanda sejak saya menjadi penggemarnya. Sebagai juara bertahan Piala Eropa dua tahun sebelumnya, dan diperkuat sejumlah pemain bintang, Belanda tentu saja diunggulkan.

Namun, prestasi yang ditunjukkan sebaliknya. Tiga pertandingan dalam babak penyisihan semuanya berakhir imbang: vs Mesir 1-1, vs Inggris 0-0, dan vs Republik Irlandia 1-1. Untung masih lolos ke perdelapan final gara-gara menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Di babak ini langsung bertemu Jerman Barat yang akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 1-0. Maradona menangis. Dalam partai itu Frank Rijkaard meludahi Rudi Voeller.

Piala Dunia berikutnya digelar di Amerika Serikat. Terjadi gegar budaya. Penonton Indonesia yang biasanya menyaksikan sepak bola Eropa pada malam atau dini hari, kali ini harus menontonnya pagi hari. Kala itu saya masih kelas 5 sekolah dasar.

Setelah lolos dari Grup F bersama Arab Saudi dan Belgia, Belanda harus berhadapan dengan Republik Irlandia. Berhasil melewati tim semenjana itu, kemudian Brazil telah menanti. Saat itu Romario dan Bebeto tengah menggila. Setelah Aron Winter berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-76, Branco akhirnya membawa Brazil ke semifinal lewat gol dari jarak jauh pada menit ke-81. Belanda pulang.

Saya masuk SMA pada tahun 1998, saat Prancis mendapat giliran menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mulai merantau, mulai jauh dari orang tua. Saya lupa, entah di mana saya bisa nonton Piala Dunia, sebab saat itu saya indekos dan tak punya tv.  Induk semang memang punya tv, tapi saya sangat malu untuk ikut menonton sepak bola.

Singkat cerita, Belanda lolos ke perdelapan final lalu menghajar Yugoslavia 2-1. Kemudian membenamkan Argentina di perempat final 2-1 setelah Dennis Bergkamp mencetak gol cantik di menit ke-89. Di semifinal lagi-lagi diadang Brazil dan tersingkir lewat adu pinalti. Phillip Cocu dan Ronald De Boer gagal mencetak gol.

Empat tahun berikutnya Belanda gagal lolos ke Korea Selatan-Jepang. Kalah bersaing di kualifikasi Grup 2 Eropa. Mereka hanya finish di peringkat tiga di bawah Republik Irlandia dan Portugal. Saat itu saya tengah menganggur: sudah lulus SMA tapi tak lolos UMPTN.

Kemudian 2006 datang. Piala Dunia kembali digelar. Jerman menjadi tuan rumah. Saya sudah lulus kuliah dan baru sebulan kerja di sebuah travel di Bandara Sukarno-Hatta. Belanda lolos sih, juga sanggup ke perdelapan final, tapi keburu dihajar Portugal 1-0. Tak istimewa.

Dan saat yang paling menyakitkan pun tiba. 2010 Piala Dunia datang ke Afrika Selatan. Ya, “Waka Waka”, “This Time for Africa”. Saya sudah pindah kerja ke Pulogadung. Di penyisihan grup Belanda sapu bersih: vs Denmark 2-0, vs Jepang 1-0, dan vs Kamerun 2-1. Juara grup.

Slovakia dihajar 2-1 di perdelapan final. Selanjutnya Brazil. Tim yang biasanya mengganjal Belanda itu tak berdaya, ditekuk 2-1 di perempat final. Belanda kian perkasa. Di semifinal giliran Uruguay yang digebuk 3-2. Giovanni Van Bronckhorst cetak gol spektakuler.

Spanyol sudah menunggu di final. Saya nonton di kamar si Jun, kawan indekos yang sehari-hari jualan di ITC Cempaka Mas. Deg-degan sejak menit pertama. Barangkali inilah saatnya menebus kekelahan pada tahun 1974 dan 1978. Arjen Robben berkali-kali mendapat pelung, namun semuanya gagal. Pertandingan dilanjutkan lewat perpanjangan waktu. Dan petaka pun datang pada menit ke-116. Iniesta menjebol gawang Stekelenburg!

Saya tertegun setelah menghamburkan kata anjing.

Besoknya bangun kesiangan. Tiba di kantor hampir pukul 10. Tapi bos tak banyak cincong. Hanya tersenyum. Dia tahu saya bobotoh Belanda.

Empat tahun kemudian di Brazil, dendam terbalaskan. Spanyol dibantai 5-1 di babak penyisihan. Lolos ke perdelapan final sebagai juara grup, Belanda menekuk Meksiko 2-1. Di perempat final ditantang Kosta Rika: menang lewat adu pinalti. Tim Krul tampil cemerlang. Sayang, di semifinal yang lagi-lagi harus diakhiri dengan adu pinalti, Louis Van Gaal tak menurunkan Tim Krul. Dia malah memasang Jasper Cillessen. Belanda pun tersingkir setelah kalah dari Argentina.

Tahun 2018, Belanda mengulang mimpi buruk 2002: kembali tak lolos. Di kualifikasi Grup A zona Eropa, Belanda hanya finish di urutan ke-3. Di bawah Swedia dan Prancis, dan hanya di atas Bulgaria, Luksemburg, dan Belarus.


Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022  

Piala Eropa 2020 tengah berlangsung. Ya, gara-gara pandemi, gelaran akbar itu diundur satu tahun. Setelah mengalahkan Ukraina (3-2) dan Austria (2-0), Belanda akan menjalani partai ke-3 besok malam melawan Makedonia Utara. Saya kira tak akan menemui kendala berarti. Belanda telah lolos sebagai juara grup, tinggal menanti lawan berikutnya. Semoga Mola TV tidak terus-terusan menjadi medioker.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Belanda sementara berada di urutan ke-2, di bawah Turki. Apakah akan lolos? Saya sih optimis. Tapi kita lihat saja.

Waktu berlalu, masa berganti, generasi berubah. Marco Van Basten, Dennis Bergkamp, dan Robin van Persie telah pensiun. Kini saya menonton generasi Denzel Dumfries, Donyell Malen, dan Matthijs de Ligt.

33 tahun hati saya selalu oranye, dan selamanya. (irf)    

19 June 2021

Mertua Penyebab Perceraian dan Janda yang Bangkit dari Keterpurukan

“Adalah kau tuangkan cinta

ke dalam tungku yang tengah panas menyala

Adalah kau padamkan bara

Tatkala hangat mulai membuai jiwa”

--KLA Project

Sebetulnya lirik lagu itu kurang begitu tepat dengan kisah ini. Ya, ini bukan cerita tentang muda-mudi yang tengah dibuai asmara. Tetapi ihwal rumah tangga yang retak setelah punya anak tiga, setelah posisi si suami lumayan dalam pekerjaannya, dan setelah mampu membeli sepetak sawah. Singkatnya tengah menanjak. Bukankah ini juga semacam “tungku yang tengah panas menyala?”     

Seorang istri akhirnya hanya mampu menangis. Betapa tidak, ia meski terpisah dengan dua orang anaknya yang masih bocah. Juga karena perpisahan ini bukan kehendaknya, juga bukan kehendak suaminya, tapi kemauan sang mertua.

Orang tua ini “pidunya (mata duitan)” dan “umaing (bersikap sekehendak hati)”. Sawah yang ia dan suaminya beli dari hasil menabung, dipinta mertua. Alasannya klasik: masa lebih membela istri daripada berbakti kepada orang tua. Si suami tak bisa berbuat banyak, atau lebih tepatnya lemah, tak punya pendirian: sawah pun lepas.

Hal-hal seperti inilah yang juga akhirnya menyeret mereka pada “pipisahan” atau perpisahan. Setelah itu, yang tersisa hanyalah kepiluan: baik bagi si istri, maupun si suami, juga anak-anaknya.

Rahmatullah Ading Affandie (RAF) begitu piawai menceritakan betapa hancurnya hati seorang perempuan ketika mulai menyandang status janda karena perceraian. Sedih, malu, marah, kesal, sesal, letih, cemas, muak, semuanya berselempang dalam hati.   

Apalagi saat ia harus pulang ke rumah orang tuanya hanya berdua dengan anaknya yang paling kecil, rasanya seperti dicampakkan sebenar betul. Suaminya tak bisa mengantar karena kerja. Anaknya yang pertama sekolah. Anaknya yang kedua, perhatiannya tengah dialihkan oleh pembantunya agar tak tahu ibunya pergi. Maka hanya si perempuan dan anaknya yang masih di gendongan, yang berat mengemasi air mata, kesedihan terlampau berpilin.

Ia lihat lagi untuk yang terakhir kali kamarnya, ruangan tempat ia dan suaminya—meminjam kutipan puisi Sapardi Djoko Damono—“pernah bercinta, pernah saling berbohong, saling lebur.” Juga kamar anaknya, dapur, ruang tengah, halaman. Ia membayangkan bagaimana nanti saat anak pertamanya pulang? Anak itu pasti mencari ibunya yang telah pergi. Juga anaknya yang kedua, pasti menangis keras karena kehilangan dirinya.

Lemari, hiasan dinding, kursi, seprai, benda-benda itu akan segera ditinggalkannya dan meranggas bersama kenangan. Saat itulah air matanya seperti hendak kering. Letih sudah menangis terus, kalbu koyak tak menentu. Dan saat suara delman yang hendak menjemputnya mulai terdengar, ia pun melangkah dengan perasaan remuk redam.

Ketika tiba di stasiun, semua mata seperti tertuju padanya. Kereta api mulai datang dan akan membawanya ke kampung, tempat yang juga akan menghukumnya dengan beribu tatapan dan dugaan. Di dalam gerbong, lagi-lagi semua orang seolah merundungnya dengan pelbagai pertanyaan:

“Ke mana bapaknya? Kok bepergian hanya berdua saja?”; “Kenapa mata sampai bengkak? Apa yang ditangisi selama itu?”; dan lain-lain, dan lain-lain. Tudingan seolah bertubi-tubi. Bahkan, petugas karcis pun seolah hendak bertanya, “Berdua saja? Ayahnya ke mana?”

Padahal semuanya berjalan seperti biasa. Tak ada seorang pun yang bertanya. Hanya hatinya yang mereka-reka. Ketakutan mengepung. Cemas. Letih. Begini buruk akhir rumah tangga, hanya mencampakkannya menjadi seorang janda.

Tapi rumah dan orang tua selamanya menjadi payung. Ia dihibur, segala luka batin berusaha diobati. Saudara-saudaranya bergantian menginap di rumahnya, agar ia tak merasa sendiri dan kesepian. Para tetangga datang silih berganti: membawa makanan, membawa penghiburan.

Namun, menjadi janda selamanya tak pernah mudah. Segala perhatian dan penghiburan itu seolah tak berbekas. Langit batinnya tetap mendung. Maka akhirnya Mama (bapaknya) berkata:    

“Mangka inget, urang téh teu bisa hayoh waé nyeungceurikan ‘kalakay murag’, midangdam hayang alam nu kaliwat kasorang deui. Teu bisa urang mah. Poé anu kamari, mustahil datang deui. Nu pasti, aya poé isuk nu ku urang kudu disanghareupan.”

Mama membesarkan hatinya. Ya, masa lalu tak bisa kembali, juga tak bisa didatangi lagi. Sekarang yang terpenting adalah menatap masa depan.

Sementaranya kakaknya yang paling besar berucap, “Pantrang urang mah maké jeung kudu béak déngkak, pédah rancatan karasa rengat.”

Ya, tak boleh kehabisan langkahnya, hanya karena jalur yang ditempuh menjadi buntu. Masih banyak jalan, masih banyak cara, dunia terlampau luas, kesempatan terhampar di mana-mana.

Maka ia pun mulai bangkit. Hari demi hari diisinya dengan menjahit. Satu dua tatangga mulai datang membawa kain, minta dibuatkan kebaya, kemeja, celana, dan sebagainya. Lama kelamaan pesanan mulai menggunung. Selanjutnya ia mulai berjualan kain. Tiap bulan belanja ke kota, lalu menjualnya berkeliling dari kampung ke kampung. Singkatnya, langit kembali cerah, kehidupan berdenyut lagi.

Sementara mantan suaminya justru perlahan terbenam. Meski telah beristri lagi, tapi cintanya kepada istri pertama tak bisa dihapuskan. Penyakit mulai berdatangan. Kondisinya kian lemah, bertambah-tambah lemah. Ya, selemah dia yang tak mampu menolak keinginan orang tua yang menghancurkan hidupnya.

Bagaimana mungkin selamanya tunduk kepada orang tua jika kebahagiaan sendiri justru tercerabut? RAF seolah ingin menohok lelaki seperti ini: tunduk pada orang tua, sementara keluarganya hancur. Ya, inilah tipe suami yang tak patut dikasihani. Suami yang peragu, bimbang, dan tak berani bersuara.

Namun saya kira, saya sepakat dengan pendapat Joko Anwar. Dia mengatakan bahwa film atau sinema tak wajib membawa pelajaran atau pesan, tugasnya hanya memberikan pengalaman. Begitu pula dengan karya sastra: pengalaman membaca lebih penting daripada tetek bengek pesan dan pelajaran. (irf)

12 June 2021

Para Dokter di Tengah Kecamuk Wabah: Dari Cipto sampai Che Guevara

Dalam sejumlah wabah yang pernah melanda dunia, terdapat beberapa tokoh yang berinisitif terlibat dalam penanggulangannya. Tiga di antaranya adalah Cipto Mangunkusumo, Slamet Atmosudiro, dan Ernesto “Che” Guevara de la Serna. Ketiga tokoh ini berasal dari keluarga menengah yang mampu mengenyam pendidikan tinggi sehingga menjadi dokter.

Kita mulai dari Cipto Mangunkusumo. Ia dilahirkan pada 4 Maret 1886 di Desa Pecangakan, Ambarawa. Ayahnya adalah seorang guru HIS yang sempat dipindahkan ke Semarang.

Pada usia 12 tahun, Cipto mengikuti ujian Klein Ambtenaar atau calon pegawai Pangreh Praja. Ia lulus dengan nilai terbaik, tetapi kesempatan itu tak diambil. Alasannya, Cipto tidak mau menjadi amtenar yang disembah rakyat dan menyembah kepada Belanda.

Setahun setelah itu, ia masuk STOVIA yang letaknya di Batavia untuk belajar ilmu kedokteran. Enam tahun kemudian Cipto lulus dan diwajibkan menjalankan ikatan dinas selama 10 tahun sebagaimana umumnya para lulusan STOVIA.

Ia mula-mula ditugaskan di Banjarmasin dan sejumlah kota lainnnya di Kalimantan. Warsa 1907, Cipto dipindahkan ke Demak. Di kota inilah ia semakin sering menyaksikan ketimpangan kehidupan sosial. Kehidupan rakyat bumiputra susah, sementara orang-orang Belanda dan para priyayi hidupnya lebih baik. Apalagi karena ia kerap keluar masuk perkampungan dengan mengendarai bendi, maka kehidupan sosial yang tidak sehat akibat feodalisme dapat ia lihat langsung dan kian menyusahkan hati dan pikirannya.

Pokok-pokok pikirannya tentang kondisi sosial kala itu ia tuangkan dalam sejumlah tulisan yang kemudian dimuat di surat kabar De Locomotief yang terbit di Semarang.

Hal ini kemudian mendorongnya memutuskan untuk keluar dari dinas pemerintah. Karena ia belum genap 10 tahun menjalankan kewajiban, maka Cipto mesti membayar denda yang cukup besar.

Pada 1907 pula Cipto menikah dengan seorang gadis pilihan ibunya yang berasal dari Temanggung. Hubungan Cipto dengan sang ibu amat dekat sehingga ia tak bisa menolak pernikahan itu.

Setahun kemudian, saat kaum pergerakan berhimpun dalam Budi Utomo dan menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta, Cipto ikut serta. Sebagai orang yang mempunyai visi tajam, Cipto menghendaki Budi Utomo menjadi organisasi terbuka yang bisa menghimpun semua rakyat bumiputra yang menghendaki kemerdekaan. Sayang, gagasannya itu berseberangan dengan mayoritas peserta kongres yang justru menghendaki sebaliknya. Golongan ini terutama diwakili oleh Rajiman Widyodiningrat yang menginginkan Budi Utomo hanya diisi oleh para priyayi Jawa. Karena buntu, maka Cipto memilih mengundurkan diri.

Pada 1909, Cipto membuka praktek dokter partikelir di Solo. Dalam melayani masyarakat yang mayoritas tidak mampu, ia kerap menggratiskan dan bahkan memberi uang kepada si pasien. Hal ini membuat masyarakat bersimpati kepadanya. Namun, ia justru lagi-lagi tidak disukai oleh golongan priyayi seperti Susuhunan Pakubuawan. Raja Jawa ini menganggap Cipto melanggar etika keraton karena kerap mondar-mandir di sekitar Alun-alun tanpa seizinnya.

Wabah Pes di Malang

Warsa 1911, wabah pes atau sampar terjadi di Malang. Kala itu, dokter-dokter Eropa enggan turun ke lapangan untuk menolong rakyat bumiputra yang paling banyak menjadi korban. Mereka hanya mau membantu sesama bangsanya. Kondisi ini segera mendorong Cipto untuk mendaftar menjadi dokter sukarelawan untuk diterjunkan di Malang.

Dalam melaksanakan tugasnya, Cipto memasrahkan dirinya pada takdir. Saat keluar masuk perkampungan untuk menolong para korban pes, ia tidak menggunakan masker dan sarung tangan.

Dalam keprihatinan, ia melihat kebodohan masyarakat yang tidak menyadari bahwa gubuk-gubuk bambunya yang kotor telah menjadi sarang tikus yang menyebarkan wabah. Namun, ia melihat bahwa hal itu terjadi karena penjajahan. Masyarakat tidak mempunyai informasi yang memadai tentang pes dan segi kehidupan lainnya sehingga mereka terbelakang, karena lagi-lagi kehiduan sosial yang tidak sehat.

Gubuk-gubuk sarang tikus itu kemudian dibakar. Dalam sebuah gubuk yang setengah terbakar, Cipto menemukan seorang bayi perempuan yang kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena pes. Cipto mengambil anak tersebut dan diberi nama Pesjati sebagai pengingat wabah yang telah merenggut orang tua si bayi.

Kegigihan Cipto dalam penanggulangan wabah pes di Malang kemudian diganjar penghargaan bintang Orde van Oranje Nassau dari pemerintah Hindia Belanda. Namun, tak lama kemudian penghargaan itu ia kembalikan karena dirinya tidak diizinkan terjun ke Solo untuk kembali terlibat dalam penanggulangan wabah pes yang telah menyebar ke kota itu.

Dari Pembungan ke Pembuangan           

Setelah mengembalikan penghargaan, Cipto kemudian pindah ke Bandung untuk bergabung dengan orang-orang pergerakan yang lebih progresif seperti Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat yang kelak lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara.

Douwes Dekker adalah pemimpin surat kabar De Express, maka itu Cipto pun bergabung dengan harian tersebut, juga menjadi anggota redaksi het Tjidschrifjt. Selanjutnya, bersama Suwardi Suryaningrat mereka mendirikan Indische Partij dengan syarat keanggotan adalah pengakuan Indonesia sebagai tanah air.

Sejalan dengan cita-cita Cipto, partai ini sangat radikal dengan melawan eksploitasi kolonialisme dan diskriminasi ras, serta menentang kekuasaan Belanda di Hindia.

Pada 1913, mereka membentuk Komite Bumiputra untuk menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis. Suwardi Suryaningrat menulis esai berjudul “Als Ik Een Nederlander Was” yang artinya “Seandainya Aku Orang Belanda”. Tulisan itu kemudian diterjemahan oleh Abdul Muis sehingga banyak rakyat bumiputra bisa memahaminya.  

Akibat tulisan yang menohok jantung kolonialisme itu, Cipto beserta Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Di negeri penjajah, Cipto sempat menyampaikan ceramah tentang pengalamannya saat terlibat dalam menanggulangi wabah pes di Malang.

Dalam ceramahnya ia berkisah tentang seorang warga yang diasingkan kelompoknya karena terpapar pes. Orang itu dengan memilukan akhirnya tinggal seorang diri di bawah pohon kamboja sampai ia meninggal dunia. Dari cerita tersebut Cipto menekankan pentingnya pemerintah Hindia Belanda untuk sigap dalam penanggulangan wabah pes. Karena malapetaka itu tak hanya merenggut nyawa, tapi juga mengoyak kehidupan sosial kaum bumiputra yang semula terkenal ramah menjadi barbar.

Tak seperti kawan-kawannya, Cipto tak lama tinggal di Belanda karena penyakit asma yang ia derita kian parah. Ia diizinkan untuk pulang ke Indonesia lebih cepat. Sesampainya di tanah air, Cipto mula-mula tinggal di Semarang tapi kemudian pindah ke Solo.

Beberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang indo bernama Marie Vogel, setelah sebelumnya bercerai dengan istri pertamanya karena terlalu banyak perbedaan. Marie Vogel bersimpati pada gerakan Indische Partij.

Meski baru pulang dari pembuangan, tetapi Cipto tak kapok untuk kembali terjun dalam dunia pergerakan. Pada 1917 ia menghidupan kembali Indische Partij dengan nama Insulinde. Di samping itu, ia juga memimpin dua media yang mendukung gerakannya, yakni Panggoegah dan De Indische Beweging. Tulisan-tulisannya di kedua media itu tetap keras mengkritisi kolonialisme.

Barangkali siasat pemerintah Hindia Belanda untuk “menjinakkan” Cipto, maka pada 1918 ia diminta untuk masuk Volksraad atau Dewan Rakyat. Cipto menerima permintaan itu meski sempat mendapat cibiran dari sejumlah kaum pergerakan non-kooperatif yang menganggap Cipto telah melunak. Namun, Cipto berargumen bahwa masuk Volksraad setidaknya dapat memperjuangkan pelbagai aspirasi rakyat dan berpeluang untuk terwujud.

Dan Cipto tetaplah Cipto. Pada 21 Maret 1920, dalam Kongres Sarekat Hindia di Surakarta, sebagai pembicara kunci ia menceritakan kisah perseteruan Ki Ageng Mangir Wanayaba dengan Panembahan Senopati. Inti dari kisah itu adalah tentang sikap priyayi (Panembahan Senopati) yang lancung.

“Jika pendirinya saja sudah ksatria gadungan, maka seluruh keturunannya, termasuk Susuhunan Pakubuwana X dan Mangkunegara VII juga ksatria gadungan. Klaim moral dan historis raja-raja Mataram atas kerajaan oleh karenanya perlu ditolak,” tulis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997).

Selain sikap kerasnya terhadap kepalsuan para priyayi yang terus ia serang, Cipto juga tetap keras mengkritisi pemerintah. Hal ini membuatnya dikeluarkan dari Volksraad dan dipindahkan ke Bandung, ke daerah yang mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Jawa.

Di Bandung, Cipto tinggal di Tegallega, di sebuah rumah yang terdapat paviliun. Dalam sejumlah buku biografi tentang dirinya, letak rumah ini tak jelas persisnya di sebalah mana. Dalam buku karangan M. Balfas misalnya, hanya disebutkan bahwa rumah Cipto di Bandung dihiasi oleh beberapa pot besar dan dua pokok cemara.

Keberadaan Cipto di Bandung menjadi inspirasi gerakan kaum muda. Sukarno yang kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang bernama ITB) kerap mengunjunginya. Jika waktu tinggal di Surabaya mentor Sukarno adalah HOS Tjokroaminoto, maka di Bandung ia menemukannya pada diri Cipto.

Popularitas Cipto sebagai tokoh yang besar perhatiannya terhadap rakyat kecil membuatnya dikagumi juga oleh orang-orang pergerakan berhaluan komunis. Pada Kongres PKI tahun 1923, foto Cipto dipajang bersanding dengan Tan Malaka, Karl Marx, Lenin, Gandhi, dan Multatuli.

Tiga tahun setelah kongres tersebut, PKI melakukan pemberontakan terhadap pemerintah, dan Cipto dianggap terlibat sehingga ia dibuang ke Banda Neira, tepatnya pada 1928. Di pembuangan, Cipto ditemani istri dan tiga anak angkatnya. Kata salah seorang dari mereka, ayah angkatnya kerap gusar karena dijauhkan dari masyarakat yang selema ini ia tolong dan perhatikan.

Selama 12 tahun dalam pembuangan, penyakit asma yang diderita Cipto kian parah. Maka itu, pada 1940, ia diizinkan untuk pindah ke Makassar agar dapat mengobati asmanya. Namun tak setelah itu, ia lagi-lagi dibuang ke Sukabumi bersama Hatta dan Sjahrir.

Di Sukabumi yang dingin, kesehatan Cipto kian memburuk. Ia kemudian pindah ke Batavia dan mendapat tumpangan dari seorang Tionghoa yang merasa berhutang budi padanya. Saat kondisinya semakin payah, kepada adiknya (Murtinah) ia berpesan, bahwa jika ia wafat agar dimakamkan di pekuburan secara sederhana.    

“Tanggal 8 Maret [1942] pemerintah Belanda menyerah [kepada Jepang], dan pada tanggal 8 bulan itu juga aku mau menyerahkan diriku kepada Yang Maha Kuasa,” ucap Cipto kepada adiknya.

Cipto Mangunkusumo wafat pada 8 Maret 1943, dua tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh dwitunggal Sukarno-Hatta, tokoh-tokoh pergerakan yang meneruskan cita-citanya.   

Slamet Sang Martir

Setelah menimpa Malang pada 1911 dan merembet ke Solo pada tahun berikutnya, wabah pes terus merangsek ke Jawa bagian barat dan menghebat di Garut. Di kota inilah kelak Slamet Atmosudiro mengakhiri hidupnya.

Slamet lahir di Lampegan, Cianjur, pada 31 Desember 1891. Pada usia belasan tahun ia masuk STOVIA dan lulus pada 1916. Seperti para dokter lainnya, ia juga mesti menjalani ikatan dinas selama 10 tahun dengan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Hindia Belanda.    

Slamet mula-mula ditempatkan di Buegerlijken Geneeskundigen Dienst (Dinas Pelayanan Medis Sipil) di Centrale Burgerlijke Ziekenhuis atau sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Setelah itu, ia dipindahkan ke Tobelo, Halmahera, dari tahun 1918 sampai 1921. Lalu dipindahkan lagi ke Batavia, dan pada 1925 ia betugas di Garut.

Ketika pes mulai menghebat di kota tersebut pada 1927, Slamet ditugaskan menjadi ketua tim penanggulangan. Dan warsa 1929, saat pes belum kunjung mereda, ia diangkat menjadi kepala rumah sakit di tempatnya bekerja, yakni di Algemeen Ziekenhuis Garoet.

Pada 1930, seorang anak pasien pes datang untuk dirawat di rumah sakit Garut tempat Slamet bekerja. Pasien itu baru dijemput dari Bojongloa, Bandung. Namun, baru sehari dalam perawatan anak itu meninggal dunia. Dokter Slamet—yang memeriksa pasien—dan sejumlah orang yang berada di sekitar anak itu mengalami demam tinggi karena terpapar pes.

Tanggal 10 Mei 1930, Slamet dibawa ke Tasikmalaya untuk diperiksa di rumah sakit yang memiliki peralatan lebih baik daripada rumah sakit di Garut. Dalam sehari, kondisi Slamet kian memburuk. Dan keesokan harinya ia pun meninggal dunia.

Berdasarkan pemeriksaan dokter Parjono dan dokter Soekardjo di Tasikmalaya, Slamet dinyatakan terpapar pes. Oleh karena itulah Slemet kemudian kerap disebut sebagai martir dalam penanggulangan wabah pes di Hindia Belanda.

Slamet meninggalkan seorang istri dan lima orang anak yang masih kecil. Anak bungsunya bahkan baru berusia dua minggu ketika ia tinggalkan untuk selamanya. Menurut laporan De Indische Courant (19/08/1930) pemerintah memberikan santunan kepada keluarga Slamet sebesar 246.50 gulden per bulan.

Sebagai penghormatan kepada dokter berdedikasi itu, upacara pemakamannya dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Bupati Garut Suriakartalegawa, Bupati Tasikmalaya, Asisten Residen AAC Linek, para wedara, dan para administratur perkebunan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda bahkan mengirimkan telegram kepada Bupati Tasikmalaya menyampaikan belasungkawa.

Puluhan tahun kemudian nama Slamet dijadian nama rumah sakit di Garut tempatnya pernah bertugas, yakni Rumah Sakit Umum dr. Slamet.

Hikayat Perjalanan Che Guevara

Selain kedua dokter bumiputra tadi, ada pula tokoh dunia yang juga berinisiatif dalam melakukan pelbagai gerakan, termasuk dalam bidang kesehatan, yaitu Che Guevara.

Nama aslinya adalah Ernesto Guevara de la Serna. “Che” adalah sapaan di beberapa negara Amerika Selatan, termasuk Argentina, yang artinya kira-kira “kawan”, “rekan”, “bro”, dan sebagainya.

Che dilahirkan di Rosario, Argentina, pada 14 Juni 1928, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna Llosa. Keluarga Che merupakan kelas menengah keturunan Spanyol dan Irlandia. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara.

Sejak remaja, ia menaruh minat pada karya sastra dunia dan filsafat. Dalam membaca, ia sering menuliskan hal-hal yang dianggapnya menarik, baik berupa ide, konsep, maupun filsafat. Ia mengutip para penulis dalam obrolan sehari-hari.

Tahun 1932, karena menderita penyakit asma yang parah, maka ia keluarganya pindah dari Buenos Aires ke Alta Gracia, Cordoba. Pada usia 20 tahun, ia masuk Universitas Buenos Aires jurusan kedokteran. Masih dalam masa-masa kuliah, tepatnya pada 1950, Che melakukan perjalanan sepanjang 4.000 mil keliling Argentina Utara menggunakan sepeda motor.

Tahun berikutnya, ia melakukan perjalanan lagi dengan sepeda motor, kali ini bersama Alberto Granado—spesialis leprologi—keliling Amerika Selatan. Tujuan mereka hanya bersenang-senang. Namun kelak perjalanan ini menetukan jalan hidup Che.

Pada Juni 1952, perjalanan mereka telah sampai di Peru. Keduanya menyempatkan diri berkunjung ke koloni lepra di San Pablo, Peru. Kunjungan itu hanya sekitar dua minggu, dan Che tak melulu menyuntuki para pasien, tapi juga bermain sepak bola, berenang, memancing.

Lain itu, ia juga memerhatikan sejumlah kekurangan fasilitas sehari-hari yang diperuntukkan bagi pasien dan para perawat serta dokter. 

Kunjugan Che ke koloni lepra itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-24. Dalam “pidato perayaannya”, ia mengatakan tentang pentingnya persatuan Amerika. Di masa itu, mayoritas negara-negara di Amerika Selatan dipimpin oleh para diktator. Artinya, kehidupan sosial poltik tidak menguntungkan rakyat.

Setelah lulus sebagai dokter pada 1953, Che lagi-lagi bepergian ke sejumah negara Amerika Selatan. Di Bolivia, ia menyaksikan mobilisasi buruh dan pergerakan kaum petani setelah Revolusi Nasional.

Warsa 1954, saat ia berada di Guetemala, Che menyaksikan pemerintahan Jacobo Arbenz digulingkan oleh Castillo Armas yang didukung Amerika Serikat.

Setelah itu, ia pergi ke Meksiko dan bertemu dengan Fidel Castro dan Raul Castro. Kedua kakak beradik ini adalah orang Kuba yang tengah menyiapkan perang gerilya untuk menggulingkan pemerintahan diktator Kuba Fulgencio Batista. Che diajak serta karena tenaganya sebagai dokter sangat dibutuhkan. Namun pada perjalanannya, Che justru menjadi kawan dekat Fidel Castro.

Pada 1956, pasukan Castro mendarat di Kuba dan mengobarkan perang gerilya selama tiga tahun. Kemenangan yang diraih Castro dan kawan-kawannya pada 1959 membuat Kuba memulai arah baru. Che diangkat menjadi Gubernur Bank Nasional. Setelah itu menjadi Menteri Industri. Lalu selama empat tahun ke depan, ia kerap bepergian ke luar negeri sebagai duta besar Kuba. Di masa inilah Che bertemu dengan Sukarno.

Tahun 1965, Che meninggalkan Kuba. Ia kembali terlibat langsung dalam perjuangan revolusioner internasional. Salah satunya ia ikut berperang di Kongo. Setahun kemudian ia kembali Amerika Latin dan bergabung dengan gerilyawan Bolivia. Sayang pada 1967 ia tertangkap dan pada 8 Oktober tahun tersebut ia ditembak mati atas perintah Presiden Bolivia Rene Barrientos Ortuno.

Warisan Che Guevara 

Che memang tidak terlibat dalam penanggulangan wabah, tetapi ia meletakkan fondasi revolusi kesehatan Kuba yang kelak berdampak pada kondisi kesehatan dunia. Sejak Che membacakan pidato berjudul “On Revolutionary Medicine” pada 19 Agustus 1960, kondisi kesehatan di Kuba berangsur membaik dan jumlah dokter serta tenaga kesehatan lainnya terus bertambah.

Pada 1998, Kuba mendirikan Escuela Latinoamericana de Medicina (ELAM) atau Sekolah Kedokteran Amerika Latin. Sekolah ini adalah kampus kedokteran terbesar di dunia dengan hampir 20.000 pelajar dari 110 negara, termasuk Indonesia, yang belajar secara gratis.

Meski demikian, Kuba bukan tanpa kekurangan. Berdasarkan penuturan para mahasiswa Indonesia yang belajar di Kuba, di sana mereka hanya menerima uang saku sebesar 5 Peso Kuba atau setara 60.000 rupiah per bulan. Lain itu, masih terdapat kekurangan infrastruktur dan obat-obatan, serta rendahnya penghasilan tenaga medis.  

Dalam hidup yang sederhana, para mahasiwa Indonesia di Kuba selalu ingat pesan dari para pengajarnya tentang pentingnya kemanusiaan.

“Kemanusiaan itu selalu ditekankan. Kami tidak boleh berpikir ingin menjadi kaya, memasang tarif, atau yang bersifat materi,” ujar salah seorang dari mereka.

Hasil “didikan Che” dan sistem kesehatan Kuba adalah Brigade Dokter Kuba yang telah betugas ke lebih 60 negara untuk misi kemanusiaan. Ketika terjadi gempa besar di Yogyakarta pada 2006 misalnya, mereka ikut membantu warga Indonesia yang terdampak.

Louis Chaviano namanya, ia salah seorang dari rombongan Brigade Dokter Kuba yang ditugaskan di Klaten. Dalam wawancara dengan majalah Playboy Indonesia, Chaviano mengatakan bahwa “Che melakukan apa saja di tempat mana saja yang membutuhkan.” Itulah prinsip yang ia dan para koleganya pegang dalam menjalankan misi kemanusiaan. (irf)